Ahli Sarankan Ibu Hamil Suntik Vaksin Covid-19, Ini Penjelasannya

Kamis, 18 Maret 2021 17:53

Ilustrasi hamil (dok.jawapos.com)

FAJAR.CO.ID — Kekhawatiran vaksinasi pada ibu hamil bisa ditepis. Hasil riset para peneliti di Hadassah-University Medical Center, Israel, malah menunjukkan sebaliknya.

Ibu hamil justru disarankan untuk divaksin. Sebab, mereka bisa menyalurkan antibodi yang dibentuk vaksin kepada bayi yang dikandung.

Dilansir The Staits Times, ada 20 ibu hamil trimester ketiga yang diinjeksi dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech. Hasilnya, antibodi terdeteksi bukan hanya di si ibu hamil, tapi juga bayi yang dilahirkannya. Efek positif vaksin tersebut tersalurkan lewat plasenta yang menghubungkan ibu dan janinnya.

’’Vaksinasi pada ibu hamil bisa memberikan perlindungan kepada ibu dan bayi dari infeksi SARS-CoV-2,’’ bunyi penggalan laporan penelitian ilmuwan Hadassah-University Medical Center tersebut.

Mereka menegaskan bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut dan lebih besar untuk melihat dampaknya. Misalnya, jika vaksin diberikan kepada ibu hamil di trimester pertama atau kedua. Belum dipastikan juga apakah sama amannya jika menggunakan vaksin Covid-19 jenis lain yang ada saat ini.

’’Kami kini akan melihat seberapa lama antibodi yang dipicu oleh vaksinasi tersebut bertahan di tubuh bayi,’’ ujar Dana Wolf, salah seorang peneliti, seperti dikutip Jerusalem Post.

Pekan lalu peneliti Amerika Serikat mengunggah hasil penelitian serupa. Yaitu, antibodi milik perempuan hamil yang diberi vaksin mRNA Covid-19 telah disalurkan ke bayinya lewat plasenta dan ASI. Vaksin milik Pfizer/BioNTech dan Moderna memakai mRNA.

Pfizer/BioNTech mulai bulan lalu juga menguji coba vaksinnya kepada perempuan hamil. Ada 4 ribu relawan secara internasional yang berpartisipasi. Tujuannya, mengetahui apakah vaksinnya efektif untuk perempuan hamil serta dampaknya kepada sang bayi. Hasil penelitian tersebut belum keluar.

Di sisi lain, beberapa negara mulai mengembangkan vaksin Covid-19 lokal. Vietnam salah satunya. Empat perusahaan Vietnam saat ini terlibat penelitian dan produksi vaksin Covid-19. Dua di antaranya sudah masuk tahap uji coba ke manusia. Yaitu, Nanocovax dan Covivac. Diperkirakan Nanocovax selesai pada kuartal keempat tahun ini dan mulai didistribusikan tahun depan.

’’Penanggulangan pandemi sangat bergantung pada perkembangan vaksin,’’ bunyi pernyataan Kementerian Kesehatan Vietnam.

Hanoi saat ini menggunakan vaksin AstraZeneca. Mereka tidak menghentikan vaksinasi meski saat ini banyak negara yang melakukannya karena kekhawatiran adanya pembekuan darah pascainjeksi.

Berbeda dengan Vietnam yang penularan Covid-19-nya terkendali, negara tetangganya justru kelimpungan. Pemerintah Filipina menyatakan akan menutup pintu untuk warga asing. Penduduk Filipina yang mudik dari luar negeri juga bakal dibatasi. Yaitu, 1.500 orang per hari.

Infeksi harian Filipina Senin (15/3/2021) merupakan yang tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Ada 5.404 orang yang positif dalam sehari. Para pakar memperkirakan jumlah tersebut bisa naik dua kali lipat pada akhir Maret jika situasi masih sama.

Karena itu, dibutuhkan tindakan ekstra untuk mengerem penularan. Rata-rata rumah sakit di Filipina kini sudah penuh oleh pasien Covid-19. (jpc)

Komentar