Mendag Bilang Impor Beras untuk Hadapi Mafia, Said Didu: Apa Negara Sudah Kalah?

Kamis, 18 Maret 2021 21:03

Said Didu-- jawa pos

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Pemerintah akhirnya buka suara terkait alasan rencana mengimpor beras satu juta ton pada tahun ini.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan bahwa impor justru dilakukan untuk menjaga harga kestabilan pangan di tanah air. Termasuk melawan permainan harga oleh spekulan atau mafia beras.

Alasan pemerintah itu langsung ditanggapi analis kebijakan publik, Said Didu. Menurutnya, alasan harga menjadi bukti pemerintah lebih memilih mengorbankan petani.

“Pernyataan Mendag bahwa impor beras untuk hadapi mafia. Yang impor mafia lain dan yang dikorbankan petani. Negara sudah kalah dg mafia beras?,” katanya dikutip Fajar.co.id di akun Twitternya, Kamis (18/3/2021).

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN itu pun meminta pemerintah mengungkap siapa yang bermain atas mahalnya harga beras di Indonesia.

“Atau tunjukkan saja mafianya, kalau negara sudah tidak sanggup hadapi mafia, biar petani yang hadapi mereka,” tegasnya.

Sebelumnya, Mendag Muhammad Lutfi menyebutkan pemerintah tidak berniat sedikitpun menjatuhkan harga beras petani. Sebaliknya pemerintah tetap menjamin harga beras dan gabah kering petani tidak turun dan tetap stabil.

“Tidak ada niat pemerintah untuk menurunkan harga petani terutama saat sedang panen raya. Sebagai contoh, harga gabah kering petani itu tidak diturunkan,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (18/3).

Lutfi mengurai bahwa pemerintah merasa perlu dalam menjaga menjaga kestabilan stok dan harga pangan, yang berpotensi dipermainkan oleh spekulan. Pemerintah, sambungnya, sama sekali tak berniat menjatuhkan harga beras petani, terutama saat petani sedang panen raya tiba.

“Kalau harga gabah kering itu diturunkan oleh Bulog, nah itu bagian dari pada penghancuran harga beras petani,” ungkap Lutfi.

Impor beras merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mengendalikan harga pangan dan memastikan stok tercukupi. Mengenai harga beras, pemerintah ingin agar tetap terjangkau oleh rakyat, sekalipun pandemi Covid-19 masih terjadi.

Kelangkaan beras tidak boleh terjadi di masa pandemi. Sebab kelangkaan itu bisa memicu harga beras menjadi tak terkendali dan membahayakan perekonomian.

Bahkan bisa mempengaruhi daya beli masyarakat. Apalagi jika para spekulan mencoba “bermain” untuk mengambil keuntungan pada saat pandemi.

“Ini adalah strategi pemerintah untuk memastikan, kita tidak bisa dipojokkan atau diatur oleh pedagang. Terutama para spekulan-spekulan yang berniat tidak baik dalam hal ini,” kata Lutfi.

Nantinya, beras impor tidak akan langsung begitu saja digelontorkan ke pasar. Sebaliknya, beras akan disimpai untuk menambah cadangan atau iron stock.

“Jadi tidak dijual serta-merta ketika panen, keputusan kapan iron stock itu mesti keluar harus dimusyawarahkan bersama-sama (antar pemangku kebijakan),” tutup Lutfi.(msn/fajar)

Bagikan berita ini:
4
10
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar