Satgas Penanganan Covid-19 Ungkap Belum Ada Studi Mengenai Kekebalan Individu

Jumat, 19 Maret 2021 08:12

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. (Sekretariat Presiden/Youtube)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA  Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mengungkapkan belum ada studi mengenai kekebalan individu yang telah menjalani vaksinasi COVID-19.

“Pada prinsipnya masih harus dilakukan studi tentang efektivitas vaksin dalam menciptakan kekebalan individu pada mereka yang telah divaksinasi,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito di graha BNPB Jakarta, Kamis (18/3).

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat menyinggung wacana membuat sertifikat vaksin COVID-19 sebagai syarat perjalanan. Sehingga mereka yang sudah divaksinasi mungkin tidak perlu menunjukkan bukti negatif tes COVID-19 setiap akan bepergian. “Namun, sampai saat ini hal tersebut masih merupakan wacana,” jelas Wiku.

Bukti vaksinasi sebagai syarat perjalanan sebetulnya juga sudah dipertimbangkan banyak negara. Seperti China, Jepang, Inggris dan Uni Eropa. Negara-negara tersebut sudah mulai mencoba memberikan sertifikat vaksinasi atau paspor vaksin untuk mempermudah perjalanan.

“Apabila sertifikasi dikeluarkan tanpa adanya studi yang membuktikan bahwa kekebalan individu telah tercipta, maka pemegang sertifikat tersebut berpotensi untuk tertular atau menularkan virus COVID-19 selama melakukan perjalanan,” ucapnya.

Seperti diketahui untuk perjalanan menggunakan transportasi umum diharuskan membuktikan hasil tes antigen atau usap (swab) PCR negatif COVID-19. Khusus perjalanan kereta api dapat menggunakan hasil tes GeNose.

Kekebalan optimal antibodi setelah vaksinasi membutuhkan waktu 28 hari setelah penyuntikan kedua. Seseorang yang telah divaksinasi pun masih dapat terkena COVID-19. Namun imunitas karena vaksinasi membantu sehingga tidak terlalu parah bila terpapar. Tetapi, masih dapat menularkan ke orang lain.

Komentar


VIDEO TERKINI