Mantan Mensos Beber Fakta Soal Pertemuan dengan Anak Buah Megawati Lainnya

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Dugaan kasus suap yang menyeret mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara dalam pengadaan bantuan sosial (bansos) mengungkap fakta terbaru. Juliari Batubara mengaku sempat bertemu beberapa kali dengan Ihsan Yunus yang ketika itu masih menjabat Wakil Ketua Komisi VIII DPR.

Di hadapan majelis hakim dan jaksa, Juliari mengatakan bahwa Ihsan Yunus sempat berkunjung ke ruang kerjanya. Alasan kunjungan itu, Ihsan adalah rekan satu partai di PDI Perjuangan.

“Kenal dengan Ihsan Yunus?” ujar Nur Azis, jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK kepada Juliari saat bersidang di PN Tipikor Jakarta, Senin (22/3).

“Kenal pak,” jawab Juliari singkat. Dalam sidang itu Juliari berstatus sebagai saksi dalam perkara dugaan suap pengadaan bansos penanganan Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek tahun anggaran 2020.

“Satu partai?” tanya Jaksa menelisik.

“Iya, Pak. Betul,” ungkap Juliari mengakui.

Mendengar pernyataan Juliari, lantas Jaksa menelisik soal Ihsan yang diduga kerap mendatangi ruangan Juliari di Kemensos RI.

“Apakah berulang kali Ihsan Yunus datang ke ruangan saksi?” cecar Jaksa.

“Iya pernah beberapa kali,” ungkap Juliari.

Jaksa mencecar apakah kedatangan anak buah Megawati Soekarnoputri di PDIP itu membicarakan soal pengadaan bansos. Namun pertanyaan itu dibantah Juliari.

Lalu jaksa juga menelisik kepentingan Ihsan datang ke ruangan Juliari selama pandemi covid-19. “Selama covid ini? Kaitannya dengan bansos ada? tanya Jaksa mendalami lagi.

“Oh nggak ada, pak. Dia pernah beberapa kali (datang). Ya wajar, pak. Dulu pernah satu fraksi, Pak,” ujar Juliari.

“Terkait dengan penjelasan saksi bahwa banyak yang ingin menitipkan perusahaan, apakah Ihsan Yunus masuk salah satunya?” kembali Jaksa mendalami.

“Enggak pernah kita bicarakan soal itu pak” pungkas Juliari.

Sidang itu merupakan perkara dengan terdakwa Direktur Utama PT Tigapilar Argo Utama, Ardian Iskandar Maddanatja; dan konsultan hukum Harry Van Sidabukke.

Mereka didakwa menyuap Juliari Peter Batubara yang ketika itu menjabat menteri sosial. Adapun nilai suapnya diduga mencapai Rp 3,2 miliar. Suap tersebut disinyalir untuk memuluskan penunjukan perusahaan penyedia bansos di wilayah Jabodetabek tahun anggaran 2020.

Harry diduga memberikan suap senilai Rp 1,28 miliar kepada Juliari. Sedangkan Ardian diduga memberi suap sebesar Rp 1,95 miliar.

Pemberian suap dari dua terdakwa yakni Harry Van Sidabuke dan Ardian Iskandar Maddanatja dilakukan secara bertahap. Uang suap itu diduga mengalir ke dua PPK bansos Kemensos untuk periode Oktober- Desember 2020, Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso. Uang diberikan untuk pengadaan bansos periode berbeda. (jpg/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan