Harga Cabai Bak “Emas Merah”, Petani Jaga Lahan 24 Jam

Selasa, 23 Maret 2021 18:02

FOTO: SOFYAN KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO

FAJAR.CO.ID — Dengan harga per kilogram bisa mencapai Rp120 ribu, ladang di tepi jalan desa tak ubahnya ”tambang emas.”

Bahkan, pada malam hari, demi lombok yang harganya kian ”pedas”, para pemilik lahan rela tidur di gubuk dan tepi jalan untuk mengantisipasi aksi pencurian yang juga kian macam-macam.

Otomatis, siang–malam ladang tersebut mesti dijaga dari tangan-tangan jahil.

”Apalagi, jelang panen atau ketika tanaman sudah tua, pemilik dan keluarganya harus menjaga ketat,” kata Mafhtuhin, salah seorang petani cabai di Desa/Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Grabagan dikenal sebagai salah satu sentra cabai atau lombok, si ”emas merah” yang harganya pada tiga bulan terakhir terus melonjak, bahkan sampai mengalahkan harga daging sapi per kilogram. Dan, diperkirakan harganya terus tinggi selama periode Ramadan dan Lebaran dalam dua bulan ke depan.

Di Desa Grabagan, sebagian besar tegalan cabai berada di tepi jalan desa. Bahkan, sebagian tanaman berimpitan dengan jalan. Inilah yang membuat para petani khawatir. Sebab, pernah terjadi beberapa kali pencurian. Para petani atau pemilik lahan pun melakukan penjagaan siang hingga malam, nyaris 24 jam.

Hal serupa dilakukan di ladang-ladang cabai di berbagai daerah. Di Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, misalnya. Jito, warga Cinandang, mengungkapkan bahwa kebiasaan bermalam di sawah berlangsung mendekati masa panen raya pertama. Langkah itu dilakukan karena sering ditemukan tanaman cabai yang dibabat orang. Selain itu, buah cabai yang siap matang kerap hilang dari pohonnya. ”Modelnya maling itu, ada yang (tanaman cabai) dibabati (ditebas habis). Ada juga yang dipetik,” ungkap Jito kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Sistem penjagaan pun diterapkan secara ketat 24 jam. Anggota keluarga pemilik lahan biasanya bergantian berjaga. Terutama pada malam hari. ”Bukan tidur di ladang, tapi berjaga di gubuk. Ada yang bawa lampu, ada juga yang bawa genset,” ujarnya.

Arik Susanto, petani lain di Cinandang, juga harus mengantisipasi kemungkinan adanya maling karena lahannya berada di pinggir jalan. ”Kalau sedang tidak hujan, malah banyak yang tidur di badan jalan itu,” ungkapnya.

Model pencurian lombok memang beragam. Di depan sebuah rumah makan di Sukoharjo, Jawa Tengah, contohnya, dua pot tanaman cabai dicuri belum lama ini. Padahal, di sekitar tempat makan favorit Presiden Joko Widodo tersebut, banyak warga yang menanam lombok di pekarangan rumah.

Lain lagi di Banyuwangi, Jawa Timur, kabupaten tempat isu lombok berlumur cat berembus. Sebuah video yang diunggah di Facebook memperlihatkan aksi seorang ibu mengutil lombok di lapak milik Cindira Lestaluhu di Pasar Sumberayu, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar.

Dalam video berdurasi 2 menit 9 detik itu, tampak seorang perempuan yang berkerudung panjang berwarna hitam dengan corak putih, bermasker kain, dan membawa tas kecil mengutil cabai rawit. Caranya, tas dimasukkan ke dalam kerudung, kemudian tangannya mengeruk cabai dan dimasukkan ke tas. Dia berusaha mengecoh pedagang dengan membeli barang dagangan lain.

Meski sudah mengetahui aksi perempuan berumur sekitar 40–50 tahun tersebut, Cindira tetap berfokus merekam aksi si ibu dengan ponsel miliknya. Aksi pada Rabu (17/3) itu merupakan yang ketiga. Sebelumnya, si ibu yang identitasnya tidak diketahui tersebut melakukannya pada Rabu dua pekan lalu (6/3) dan Kamis sepekan kemudian (11/3). ”Saat kejadian pertama, saya tidak curiga. Dia duduk di bawah cabai rawit dan bertransaksi seperti biasa. Setelah dia pergi, ada 1 kilogram cabai rawit milik saya yang raib,” ungkap Cindira kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Nah, setelah merekam aksi ketiga tersebut, baru Cindira menegur. Saat ditegur, si ibu terlihat pasrah dan mengakui perbuatannya. Seluruh pedagang juga ikut menceramahi ibu tersebut. Kemudian, dia mengeluarkan tasnya dan mengembalikan seluruh cabai rawit yang sudah dikeruk. ”Tidak mengatakan apa-apa, langsung pergi meninggalkan pasar,” ucapnya.

Cindira juga sudah memaafkan perbuatan perempuan tersebut meski telah mencuri 2 kilogram cabai rawit dagangannya. Dia memilih tidak melapor kepada polisi dan menghapus video yang diunggahnya di Facebook yang awalnya dimaksudkan untuk memberi efek jera. ”Saya sudah ikhlas. Mungkin ibu itu sangat butuh cabai untuk memasak dan pasti juga punya keluarga yang menunggunya di rumah,” katanya.

Di Grabagan, Kapolsek Iptu Agus Setiono menyatakan bahwa sejauh ini belum ada laporan pencurian cabai yang masuk di wilayah hukumnya. ”Selama ini belum sampai ada laporan pencurian cabai. Para petani hanya antisipasi,” jelas dia.

Untuk turut meminimalkan kerawanan pencurian, anggotanya rutin berpatroli di kawasan tegalan cabai. ”Yang paling dikhawatirkan warga adalah lahan cabai yang bersebelahan dengan jalan desa,” ungkapnya.

Ya, siapa yang tidak cemas? Di pasar yang ramai, di depan warung saja, ada yang berani mengutil. Apalagi di tegalan. (jpg)

Bagikan:
4
4
4

Komentar