Perginya Juru Damai Sahabat Semua Orang

Jumat, 26 Maret 2021 01:38

FH merupakan Delegasi Indonesia dalam perundingan dengan GAM yang menghasilkan Kesepakatan Helsinki pada tahun 2005). Namun, perannya di belakang meja perundingan dalam negosiasi itu sesungguhnya hanya sebagian kecil dari kiprahnya dalam turut mengakhiri konflik di Aceh. Jauh sebelum para perunding duduk berhadap-hadapan, FH telah pergi ke hutan-hutan di Aceh  menemui tokoh-tokoh GAM, terbang ke Swedia menemui Hasan di Tiro dan bahkan ia merupakan pejabat Indonesia pertama yang menemui Martti Ahtisaari, mediator perundingan Indonesia-GAM yang di kemudian hari memperoleh hadian Nobel Perdamaian. Dalam beberapa kesempatan Ia berjalan sendiri, tak jarang bersama koleganya; Juha Christensen, Orang Finlandia yang pernah hidup di Sulawesi Selatan pada awal tahun 80-an.

Supel Tak Berjarak

Berpembawaan supel dan tidak terlalu suka pada formalitas, FH dapat menempatkan dirinya sebagai pemecah kebekuan dalam situasi yang bagaimana pun. Penerima Bintang Jasa Utama dari Pemerintah RI (2010) ini bisa masuk ke semua golongan dan tingkatan. Itu merupakan salah satu faktor kunci –seperti diakuinya dalam buku To See the Unseen —yang menyebabkan pihak-pihak yang berkonflik dapat menerima kehadirannya sebagai bagian dari penengah, dan kemudian menemukan solusi. Pembawaannya yang supel itu membuatnya tidak memiliki musuh.

Oleh pengalaman di masa kecil, FH merupakan sosok yang sangat peka terhadap ketidakadilan. Dalam berbagai percakapan, ia sering berkisah tentang bagaimana di peristiwa-peristiwa tertentu ia kerap berbuat nekad karena menyaksikan adanya kesewenang-wenangan terhadap pihak yang lemah. Barangkali juga diasah oleh solidaritas dan spiritnya semasa jadi aktivis pelajar dan mahasiswa.

Komentar