Larangan Mudik, Pelaku Usaha Kecewa

Sabtu, 27 Maret 2021 12:23

Ilustrasi. Penumpang memasuki KA di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Menurut Alan, situasi yang tidak pasti tersebut membuat konsumen tidak banyak merencanakan perjalanan pada 2021. Termasuk untuk urusan mudik Lebaran. ”Namun, bagaimanapun, yang namanya mudik itu sudah pasti akan terjadi pergerakan. Dan dengan pelarangan ini, yang terjadi adalah orang tidak bergerak,” tegasnya.

PHRI menilai kebijakan tersebut secara tidak langsung memengaruhi upaya sektor perhotelan dan restoran untuk bertahan. Pada kuartal IV 2020 PHRI sempat mendapat geliat demand dengan peningkatan okupansi 40 persen.

Terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menyoroti maju mundurnya keputusan pemerintah. Kebijakan yang plinplan tentu memengaruhi ekspektasi dunia usaha. ”Seperti di otomotif sudah dapat diskon PPnBM, kemudian genjot produksi, tiba-tiba kebijakan berubah. Itu rencana bisa buyar semua,” cetusnya.

Melihat data 2019, saat mudik Lebaran, sektor transportasi menyumbang PDB (produk domestik bruto) hingga Rp 220,6 triliun. Angka tersebut relatif lebih tinggi dibanding kuartal sebelum momen mudik.

Dari sisi pengusaha fashion, misalnya, pelaku usaha sudah menyetok bahan baku dan mendesain baju Lebaran. Tapi, lantaran mudiknya dilarang, mereka menanggung rugi. (jpc)

Komentar