Sosiolog: Akar Masalah Radikalisme adalah Kemiskinan, Ketidakadilan, Korupsi, dan Ketimpangan Sosial

Senin, 29 Maret 2021 14:37
Belum ada gambar

INT.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Respon seragam para elite menyikapi peristiwa bom bunuh diri di gerbang Gereja Katedral Makassar, yang terjadi pada Minggu 28 Maret 2021adalah respon paling aman dan praktis di tengah ketegangan relasi antara negara (kekuasaan) dan masyarakat sipil.

Bukan hanya kutukan dan kecaman yang muncul. Para elite di negeri ini, mulai dari Presiden RI, Menteri, Gubernur, elit Parpol dan elemen masyarakat sipil nuansanya seragam ramai-ramai menyuarakan seruan bahwa terorisme tidak berkaitan dengan agama.

Pertanyaannya, mengapa ‘penyangkalan’ bahwa terorisme tidak terkait dengan agama itu sangat penting disuarakan walaupun terdengar klise?

Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr Sawedi Muhammad menuturkan, respon normatif yang sesungguhnya menutupi masalah paling mendasar yang seharusnya diungkap ke publik secara terang benderang yaitu gagapnya kekuasaan mengelola dinamika berbangsa dan bernegara di negara yang sangat plural seperti Indonesia.

Menurutnya, sangat mendesak untuk mengurai akar masalah radikalisme, fundamentalisme dan terorisme yang nampaknya akan selalu menjadi penganggu utama keteraturan sosial (social order).

Tanpa upaya bersama lintas pemangku kepentingan untuk menemukan akar masalahnya, maka radikalisme, fundamentalisme dan terorisme akan selalu menghantui kebhinekaan Indonesia.

“Terdapat beberapa rekomendasi yang mendesak dilakukan. Pertama, negara (rezim berkuasa) harus mengakui berbagai kegagalan, keterbatasan dan tantangan yang dihadapinya dalam mengelola negara,” urai Dr. Sawedi Muhammad kepada fajar.co.id, Senin (29/3/2021).

Bagikan berita ini:
5
9
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar