Mattompang Arajang, Eksplorasi Benda Pusaka Tanah Legenda

Selasa, 30 Maret 2021 10:56

Mattompang Arajang

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dikenal sebagai kota beradat menyimpan beragam keunikan dan estetika budaya. Hampir di setiap peringatan hari jadi Bone yang jatuh setiap tanggal 6 April, terselip sebuah ritual adat nan sakral yakni Mattompang Arajang.

Mattompang atau Mappepaccing berarti menyucikan. Arajang bermakna benda atau sekumpulan benda pusaka nan sakral peninggalan kerajaan Bone.

Upacara sakral ini sejatinya rutin setiap tahun dilaksanakan, namun baru pada tahun 2019 lalu, diusianya yang ke-689 tahun, Bone menunjukkan jati dirinya sebagai daerah yang mempunyai perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Kala itu untuk pertama kalinya benda pusaka peninggalan raja-raja Bone dipamerkan untuk umum.

Benda-benda pusaka yang ditompang meliputi Teddung Pulaweng (Payung emas), Sembangeng Pulaweng (selempang emas), Kelewang LaTea RiDuni, Keris La Makkawa, Tombak La Sagala, Kelewang Alameng Tata Rapeng (Senjata adat tujuh atau Ade’ Pitu)

Pencucian benda pusaka tersebut menggunakan beberapa air sumur yang berada di Kabupaten Bone. Yakni Bubung Parani, Bubung Bissu, Bubung Tello’, dan Bubung Laccokkong. Sumber mata air ini dikumpulkan sebagai bahan pembersihan pusaka.

Ritual Mattompang tersebut dilakukan dalam beberapa tahap. Dimulai dengan Mallekke Toja yaitu pengambilan air di tujuh sumur untuk pembersihan arajang.

Dilanjutkan dengan Matteddu Arajang atau mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempatnya yang kemudian dibawa ke tempat Mattompang oleh para bissu.

Tahapan selanjutnya disebut ‘memmang to rilangi’ atau kata-kata yang diucapkan oleh bissu yang berisi permohonan izin untuk membersihkan arajang.

Dilanjutkan dengan inti acara yaitu “massossoro atau mattompang arajang” yang bermakna mencuci benda-benda pusaka yang dilakukan oleh empat orang panre bessi (pandai besi kerajaan) diiringi dengan sere alusu atau gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tujuh bissu masing-masing bali sumange, ana beccing, dan kancing diiringi genderang.

Bupati Bone, Andi Fashar M Padjalangi menegaskan kebesaran suatu daerah ditunjukkan identitas jati diri yang kuat, dengan begitu ia dapat dibedakan dengan daerah lainnya.

Bone tidak hanya besar karena wilayah dan penduduknya, tetapi memiliki kesemuanya, itulah sebabnya menjadikan Bone hebat dan kesohor di mana-mana karena mampu menjaga kearifan lokalnya. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
7
6
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar