IPW: Teroris Turunkan Pasukan Perempuan, Ingin Tunjukkan Lemahnya Sistem Keamanan Mabes Polri

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID -- Aksi serangan teroris yang dilakukan Zaskiah Aini di Mabes Polri pada Rabu (30/3) sore mengagetkan publik. Apalagi, aksi itu terjadi hanya tiga hari setelah aksi bom bunuh diri di Makassar.

Indonesia Police Watch (IPW) menilai, aksi itu menunjukan dua hal kepada publik. “Pertama, kelompok teroris kini punya pasukan khusus, pasukan 'Inong baleh',” kata Ketua Peresedium IPW Neta S Pane kepada Pojoksatu.id, Kamis (1/4/2021).

Itu sama seperti saat pasukan GAM disisir habis oleh Polri dan TNI di era konflik Aceh.

“Mereka mengedepankan pasukan perempuan atau “Inong baleh. Kelompok teroris ini sepertinya meniru apa yang dilakukan GAM,” jelasnya.

Di mana lanjut Neta, para teroris disisir habis oleh Polri, kini mereka menurunkan pasukan perempuan yang disebut “Inong baleh”.

“Setelah serangan di gereja di Makassar, pasukan 'Inong baleh' masuk ke jantung Polri dan melakukan serangan yang mengagetkan dari dalam komplek Mabes Polri,” terangnya.

Hal tersebut, kata Neta bahwa kelompok teroris menunjukkan kepada publik khususnya pemerintah bahwa keberadaan mereka ada.

Kedua, tambah Neta, bahwa bos teroris yang mengendalikan mereka ingin menunjukkan bahwa pasukan “Inong baleh” mereka lebih nekat.

Dengan kemampuan seadanya dan tanpa paham “medan pertempuran” pasukan “Inong baleh” teroris nekat melakukan serangan dari dalam Mabes Polri.

“Teroris ingin menunjukkan teori baru, serangan tidak dari luar tapi dari dalam,” jelas Neta.

Menurutnya, para teroris ingin menunjukkan ke publik bahwa inilah pertama kali dalam sejarah, Mabes Polri bisa diserang teroris dari dalam.

“Teroris ingin menunjukkan betapa lemahnya sistem keamanan Mabes Polri di era Kapolri Sigit,” tuturnya.

Di saat Polri sedang sibuk melakukan penggerebekan ke sarang teroris di berbagai tempat justru markas besarnya malah kebobolan dari dalam.

Ia menilai, baik serangan di Makassar maupun di Mabes Polri masih dalam tingkatan peringatan atau ujicoba bahwa akan ada serangan besar dilakukan bos teroris.

Untuk itu Polri harus segera mencari dan menangkap bos teroris itu.

“Bgaimana pun, baik serangan di Makassar maupun di Mabes Polri ada pihak mengendalikan dan tidak mungkin pelaku bekerja sendiri,” pungkas Neta.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit mengatakan, Zakiah Aini melakukan tembakan kepada petugas sebanyak enam kali.

Dua kali ditembakkan kepada polisi di dalam pos, dua kali menembak polisi di luar serta dua kali kepada anggota polisi yang ada di belakangnya.

“Karena itu, polisi melakukan tindakan tegas terukur hingga tewas di tempat kejadian,” kata Kapolri di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (23/3) malam.

Zakiah Aini diketahui masuk dari pintu belakang Bareskrim Polri menuju pos gerbang utama Mabes Polri.

Selanjutnya terduga teroris tersebut menanyakan keberadaan kantor pos.

Petugas yang ditanyai oleh perempuan tersebut menunjukkan arah kantor pos yang ditanyainya.

Setelah mendatangi pos, perempuan itu pergi dan kembali mendatangi pos jaga.

Pada saat kembali tersebut perempuan yang diketahui eks salah satu mahasiswa perguruan tinggi namun “drop out” atau pemutusan studi tersebut menembaki petugas sebanyak enam kali. (PojokSatu)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan