HNW Bilang Sultan Syarif Kasim II Harus Jadi Panutan Generasi Muda

Senin, 5 April 2021 17:20

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) M Hidayat Nur Wahid-- humas mpr

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan, Sultan Syarif Kasim II Raja ke-12 Kesultanan Siak, Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin memiliki tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia. Karena berkat perjuangan dan pengorbanannya, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, makin bermakna.

HNW menuturkan, beberapa bulan setelah Proklamasi, Sultan Syarif Kasim II berkirim kabar kepada Bung Karno. Saat itu, ia menyatakan diri bahwa kesultanan yang dipimpinnya siap bergabung bersama NKRI. Bahkan, ia juga merelakan wilayah kerajaannya menjadi bagian dari Negara Kesatuan Rebupblik Indonesia.

Tidak hanya itu, Sultan Syarif Kasim juga menyerahkan mahkota kerajaan yang berhias batu permata. Serta menyumbang dana sebesar 13 juta Golden setara dengan Rp 1 triliun untuk pemerintah Indonesia.

“Sultan Syarif Kasim juga juga mengajak raja-raja di Sumatera Timur untuk mendukung NKRI. Karena sebelum proklamasi, Sultan Syarif dikenal sebagai pendukung kemerdekaan,” ujar HNW saat menjadi pembicara pada acara Temu Tokoh Nasional, kerjasama MPR dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Rengat, Indragiri Hulu Provinsi Riau. Acara tersebut berlangsung di Wisma Happy, Pematang Reba, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Minggu (4/4).

Menurut HNW, Sultan Syarif Kasim juga kerap membantu para pejuang. Salah satu jalan perjuangannya dengan membangun masyarakatnya melalui pendidikan. Terbukti, pada 1917 Sultan Syarif mendirikan madrasah Taufiqiyah Al Hasyimiah.

“Kemudian pada 1926 beliau juga mendirikan sekolah khusus untuk perempuan,” kata HNW.

Mengingat jasa-jasanya yang begitu besar, menurut HNW, pantas jika bangsa Indonesia memberikan penghargaan kepada Sultan Syarif, meski saat ini namanya sudah diabadikan menjadi nama bandara Internasional di Pekanbaru.

Karena, lanjut HNW, dalam arti yang lebih luas, bukan hanya ekonomi, Sultan Syarif adalah teladan. Ia adalah tokoh daerah yang berhasil membangun wilayahnya, kemudian berkontribusi membantu melakukan pembangunan di pusat. Ini harus menjadi panutan bagi kita semua, khususnya generasi muda.

“Tokoh-tokoh daerah yang terdidik dan terpanggil untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” imbuh HNW.

Sementara itu, anggota MPR dari Fraksi PKS Syahrul Aidi Maqzat, mengatakan saat ini dunia termasuk Indonesia berada pada era disrupsi atau percepatan. Pada era ini kompetitor usaha muncul dengan sangat cepat. Karena itu, masyarakat dituntut memproduksi sendiri kebutuhan yang diperlukan agar bisa meningkatkan kesejahteraan. Karena kalau kebutuhan tersebut masih dipenuhi orang lain, niscaya kita akan terus terjajah.

“Tidak usah berfikir soal mobil atau kendaraan. Cukup kebutuhan kita sehari hari. Apa yang dimakan dan dipakai, itu perlu kita cukupi sendiri,” kata Syahrul.

Potensi yang dimiliki masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sendiri kata Syahrul sangat besar. Apalagi saat ini ada jaringan yang sangat luas seperti di Kemendes dan Bumdes. Dan itu harus dimanfaatkan dengan sebaik baiknya. (jpg/fajar)

Komentar