Pemain Bertahan PSM Makassar Siap Redam Produktivitas PSIS Semarang

Kamis, 8 April 2021 12:30

Sesi latihan PSM Makassar (Instagram PSM Makassar)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — PSIS Semarang bakal menjadi lawan selanjutnya PSM Makassar pada babak 8 besar Piala Menpora 2021. Kedua tim bakal bersua di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Jum’at (9/4/2021) besok.

PSIS Semarang yang memiliki statistik produktivitas tinggi bakal menghadapi tim PSM yang memiliki pertahanan yang baik.

Dari statistik fase grup Piala Menpora, PSIS telah mencetak 9 gol, atau yang terbaik diantara 16 klub lain. Namun, PSIS juga sudah kebobolan 6 kali.

Sedangkan PSM Makassar, berhasil mencetak 5 gol pada fase grup. Namun mereka hanya kebobolan 3 gol saja, atau terbaik ketiga setelah Bali United dan PSS Sleman yang hanya kebobolan 2 gol.

Satu pemain kunci PSIS Semarang dilini depan adalah Hari Nur Yulianto. Sang kapten Mahesa Jenar tampil sangat impresif bersama PSIS.

Melalui, determinasinya membuatnya menorehkan 1 gol dan satu assist pada fase grup. Selain itu kepemimpinannya mampu mengobarkan semangat para pemain muda PSIS Semarang.

Namun, penampilan apik Hari Nur tidak terlalu dirisaukan Kapten PSM Makassar, Zulkifli Syukur. Ia menyebut semua pemain sama saja, ia pun tak akan melakukan penjagaan khusus kepada Hari.

“Hari Nur juga tidak bisa menciptakan gol, tidak bisa bermain bagus tanpa ada dukungan 10 orang pemain lainnya, jadi saya pikir bukan cuma Hari Nur yang perlu di waspadai, tapi seluruh pemain yang bermain. Di starting eleven,” ucap pemain yang identik dengan nomor punggung 03 ini.

Kedua pemain pada laga nanti diprediksi bakal saling berduel. Hari yang sering merangsek dari sisi kiri penyerangan PSIS tentu tak akan dibiarkan begitu saja oleh Zulkifli yang berposisi sebagai full bek kanan.

Sementara itu, bek PSM Makassar Erwin Gutawa juga siap meredam agresivitas para pemain PSIS Semarang. Ia bertekad tampil all out untuk membawa pasukan Ramang melaju ke babak semifinal.

“Kita akan tetap tampil all out, dan kerja keras lagi,” singkatnya. (Zaki/eds)

Komentar