IAS Bicara Histori Stadion Mattoanging: Harus Dibangun, Tidak Boleh Tidak!

Sabtu, 10 April 2021 10:10

Ilham Arief Sirajuddin

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — PSM Makassar sejatinya sejak lama mewakili wajah sepakbola Indonesia bagian timur. Bahkan klub kebanggaan rakyat Sulawesi Selatan ini diakui sebagai klub tertua di Indonesia.

Ironisnya, PSM tak punya stadion berstandar internasional. Berstandar nasional pun tidak punya. Sangat disayangkan. Kini Pemprov Sulsel akan mewujudkan itu. Stadion Mattoanging yang dulunya kumuh, lusuh, tidak terawat, telah diratakan dengan tanah.

Rencananya Stadion Mattoanging Makassar bakal disulap menjadi kawasan sport center yang megah. Meski bangunan lamanya telah dibongkar, jejak historisnya masih akan terjaga.

Mantan Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin angkat bicara terkait desas desus kelanjutan Stadion Mattoanging. Apalagi Gubernur Sulsel non aktif Nurdin Abdullah terbelit hukum, publik semakin resah akan nasib Mattoanging.

Pria yang akrab disapa Aco itu menerangkan Stadion Mattoanging dibangun pada tahun 1958 di atas lahan seluas 7 hektar. Pertama kali sejak berdiri, pada tahun 2000 stadion tersebut direnovasi untuk menghadapi Champion Asia.

“Saya yang inisiasi. Sejak tahun 2000 itu tidak pernah lagi direnovasi sampai akhirnya dirubuhkan,” aku Ilham Arief di Makassar, Jumat (10/4/2021).

Menurut IAS (akronim namanya), pecinta PSM itu tidak kurang dari 50 ribu orang. Belum termasuk yang dari luar Makassar. Tapi seiring berjalannya waktu, pecinta PSM semakin bertambah, sementara kapasitas stadion sudah tidak memadai. Problemnya krusialnya ada disitu.

Kemudian, lanjut IAS, dari sisi pengamanan sudah tidak sesuai standar normal stadion. Kapasitas stadion itu jika dipaksakan, paling maksimal 14 ribu penonton, itu sebelum dirubuhkan. Sementara pecintanya kurang lebih 50 ribu orang.

Lalu, ia mempertanyakan, bagaimana bisa mengelola tim dengan baik jika pendapatan dari penontonnya saja seperti itu. Daerah lain kapasitas penontonnya rata-rata 25 ribu penonton. Dari angka itu, tidak lebih dari 5 persen masuk stadion tanpa karcis.

“Kalau di sini kan kita tahu sendiri bagaimana,” cetus IAS tersenyum.

IAS juga menyinggung terkait pembangunannya kembali setelah dibongkar. Bisa jadi kapasitas penontonnya nanti meningkat menjadi 25 sampai 30 ribu. Karena jika ingin bangun dari nol, biayanya cukup besar. Paling tidak di atas Rp 1 triliun.

Stadion Ki Jalak Harupat Bogor saja menelan hampir Rp 1 triliun. Stadion Papua yang paling baru di Indonesia anggarannya Rp 1,8 triliun. Kapasitas penontonnya 40 ribu berstandar FIFA. Jadi tidak ada lagi stadion di bawah Rp 1 triliun.

“Apalagi Mattoanging ini mulai dari nol. Sebenarnya kemarin masih memungkinkan menambah saja, tidak perlu diratakan,” gumamnya.

Jika Walikota Danny Pomanto ingin mengurangi kapasitas penontonnya, IAS justru prihatin terhadap para penonton dan PSM itu sendiri.

“Lalu bagaimana dengan analisa Amdal Lalin. Bisa disiasati dengan penonton yang datang menggunakan ojek online atau angkutan umum. artinya tidak memakai kendaraan pribadi. Orang datang dengan diantar,” saran dia.

Karena jejak histori Stadion Mattoanging bagi sekian banyak pecinta tim Ramang, IAS menyebut tidak ada alasan bagi pihak terkait untuk tidak melanjutkan pembangunan Stadion Mattoanging.

“Harus dibangun karena ada history disitu yang tidak bisa dilupakan. Tidak boleh tidak dibangun stadion disitu. Harus tetap terbangun, tidak boleh tidak. Persoalannya uangnya dari mana. Baru mau mengajukan pinjaman,” pungkas IAS. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
7
7
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar