M Qodari Sebut Abdul Mu’ti Layak Dipertimbangkan Jadi Mendikbudristek

Selasa, 13 April 2021 17:40

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti (dok Twitter)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Sidang paripurna DPR RI menyetujui penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sehingga menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek)

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M. Qodari menilai penggabungan dua institusi itu wajar, karena masih satu rumpun, demi mengoptimalkan kinerja kementerian di masa mendatang.

’’Kita tahu Pendidikan itu kan sebetulnya tidak terputus tapi merupakan suatu kesatuan dimana Pendidikan Menengah itu selanjutnya Pendidikan Tinggi,’’ ujar Qodari kepada wartawan, Selasa (13/4).

Mengenai siapa yang bakal memimpin kementerian hasil peleburan itu, Qodari berpendapat Sekjen Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti layak dipertimbangkan menjadi salah satu kandidat menteri menggantikan Mendikbud Nadiem Makarim.

’’Waktu itu kan diproyeksikan menjadi calon Wakil Menteri Pendidikan tetapi kan batal konon kabarnya karena Muhammadiyah kurang berkenan, sebab dari NU Yaqut Cholil Qoumas menjadi Menteri Agama,’’ bebernya.

Qodari menambahkan, postur Kementerian menjadi proporsional, dimana secara tradisi Menteri Pendidikan berasal dari latar belakang Muhammadiyah, sedangkan Kementerian Agama menjadi wilayahnya Nahdlatul Ulama (NU). ’’Jadi klop kayaknya,’’ tukasnya.

Qodari memprediksi, Muhammadiyah akan mendukung bila Abdul Mu’ti diangkat jadi menteri, bukan wakil menteri sebagaimana tawaran pada reshuffle kabinet pada Januari 2021.

Selain itu, Qodari mengatakan, Abdul Mu’ti merupakan sosok yang memiliki alam pemikiran moderat dan toleran. Hal itu relevan di tengah suburnya paham radikal, jadi sudah saatnya institusi pendidikan Indonesia menjadi pintu penyemaian pemikiran toleran melawan radikalisme.

Lanjut Qodari, sudah saatnya Kementerian Pendidikan dikembalikan kepada Muhammadiyah yang sudah berpengalaman mengelola sekitar kurang lebih 162 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, sementara tingkat Sekolah Dasar (SD), SMP dan SMA lebih banyak lagi sebagaimana data bulan Agustus 2020.

’’Itu cocok untuk Muhamadiyah karena Muhammadiyah itu punya pendidikan dasar dan menengah, punya pendidikan tinggi, jadi punya skill soal pendidikan tinggi,’’ tegasnya. (jpg/fajar)

Bagikan berita ini:
10
5
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar