Jenderal M Jusuf di Antara Soekarno dan Soeharto

Rabu, 14 April 2021 11:45

Jenderal TNI (Purn) M Jusuf

FAJAR.CO.ID — Posisi Jenderal M Jusuf ketika terjadi Gerakan 30 September 1965 (G30S) cukup menarik perhatian. Saat itu M. Jusuf merupakan bawahan Presiden Soekarno sebagai seorang Menteri Perindustrian Ringan sekaligus bawahan Soeharto sebagai bagian dari Tentara Nasional Indonesia.

Atmadji Sumarkidjo dalam bukunya berjudul “Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit telah banyak mengulas biografi M Jusuf.

Dalam buku tersebut menjelaskan, pada akhir September 1965, enam delegasi diberangkatkan pemerintah ke Cina. Termasuk yang berangkat adalah M Jusuf yang menjabat menteri pada saat itu.

“Waktu itu, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Cina sedang mesra-mesranya. Presiden Soekarno telah mengumumkan poros Jakarta – Pnompenh – Beijing dan Pyongyang, suatu poros politik yang kental anti Barat atau anti Amerika serta sekutu-sekutunya,” kata Atmadji, dikutip Fajar.co.id, Rabu, (14/4/2021).

Yang mengganjal ketika itu, staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang diperintahkan Duta Besar Dubes Djawato meminta para delegasi Indonesia untuk menyetor paspor mereka untuk disimpan di gedung KBRI.

Namun, M Jusuf termasuk orang yang menolak untuk menyerahkan paspornya dengan alasan selama ini ia tidak pernah memberikan paspornya ke orang lain.

Acara perayaan hari nasional Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 1 Oktober 1965 dikatakan berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, setelah itu para delegasi Indonesia mendapat kabar bahwa telah terjadi sebuah peristiwa di Jakarta.

M Jusuf pun bersikeras untuk segera kembali ke Jakarta. Ketika mendarat di Bandara Internasional Kemayoran, M Jusuf langsung menuju ke Markas Komando Cadangan Strategis AD (Kostrad) di Jalan Merdeka Timur.

Atmaji sempat mempertanyakan, mengapa M Jusuf tidak langsung mencari Soekarno, padahal saat itu ia merupakan bagian dari Kabinet Dwikora yang dipimpin Soekarno.

Namun, katanya, Jusuf memberikan jawaban bahwa pertama-tama ia (M Jusuf, red) merupakan anggota TNI. Karena Men/Pangad (Achmad Yani, red) gugur, maka yang menjabat sebagai perwira paling senior adalah Panglima Konstrad Soeharto. Sehingga menurut Soeharto, ia hanya mengikuti SOP militer.

“Jusuf kenal dengan Soeharto, karena mereka pernah sama-sama bertugas di Makassar pada dua kesempatan yang berbeda,” ungkap Atmaji.

Peristiwa itupun didengar M. Jusuf langsung dari Soeharto terkait situasi yang terjadi di Jakarta. Setelah itu, barulah ia melaporkan kedatangan dirinya kepada Soekarno sebelum diadakan sidang kabinet 6 Oktober 1965. (selfi/fajar)

Bagikan berita ini:
5
5
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar