Soal Doa Semua Agama, MUI: Toleransi Bukan Berarti Melebur Peribadatan

Kamis, 15 April 2021 10:46

Majelis Ulama Indoneisa

FAJAR.CO.ID — Saat ini, banyak masyarakat yang mengartikan toleransi tidak pada tempatnya. Bahkan dalam praktiknya, toleransi menabrak nilai-nilai agama itu sendiri.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis, toleransi bukan berarti melebur antara peribadatan agama satu dengan lainnya.

“Berdampingan tidak dijadikan jus, dicampur, melebur, ya nggak boleh, kita ini agama berlandas Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata Cholil Nafis dilansir kanal YouTube-nya Cholil Nafis Official, Kamis (15/4/2021).

Dia melanjutkan bahwa bhineka tunggal ika juga tidak mengajarkan untuk melebur. Bhineka mengajarkan perbedaan tetapi dalam satu kesatuan NKRI.

“Itu namanya Bhineka, kalau dicampur itu tidak lagi Bhineka, aneka ragam itu kan ketika dalam keadaan entitas masing-masing, tapi kalau dijadikan jus apa itu bisa dikatakan Bhinekka, kan enggak,” jelasnya.

“Banyak orang yang memahami toleransi itu kayak jus, dilebur semua, agama dilebur, nggak usah pakai atribut agama, itu dilebur. Itu bukan Bhinekka, itu jusnikka,” sambung dia.

Dia menjelaskan bahwa Bhineka itu tidak boleh merendahkan satu dengan lainnya. Tidak boleh menganggu peribadatan agama lainnya.

“Yang namanya Bhineka itu masing-masing entitasnya, tapi tak boleh mengganggu tak boleh merendahkan, tak boleh menghalangi, tak boleh menghambat,” katanya.

Dia juga menjelaskan soal doa semua agama yang diusulkan Menteri Agama. Menurut Cholil Nafis, umat Islam tidak boleh berdoa selain kepada Allah.

Komentar