Bhimas Yudhistira: Kalau Tidak Hati-hati Kita Bisa Masuk pada Jebakan Utang atau Debt Trap

Jumat, 16 April 2021 19:24

ILUSTRASI. Uang Panjar

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar USD 422,6 miliar atau tumbuh 4 persen (yoy) pada Februari 2021.

Erwin menjelaskan, pertumbuhan ULN bertumbuh seiring upaya penanganan dampak pandemi Covid-19 sejak 2020. Di samping itu, akselerasi program vaksinasi serta perlindungan sosial pada triwulan I-2021.

Peningkatan utang ini, lanjut Erwin, untuk memenuhi target pembiayaan APBN 2021 melalui pendanaan dari dalam dan luar negeri.

“Pemerintah tetap mengutamakan utang tenor menengah-panjang dan pengelolaan portofolio utang secara aktif untuk mengendalikan biaya dan risiko,” beber dia.

Erwin memerinci, pemanfaatan ULN juga untuk mendukung belanja prioritas seperti sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (17,7 persen dari total), sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (17,2 persen), sektor jasa pendidikan (16,3 persen), sektor konstruksi (15,3 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (12,7 persen).

“Posisi utang luar negeri pemerintah pada Februari 2021 mencapai USD 209,2 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya sebesar USD 210,8 miliar,” kata dia.

Sementara itu, Erwin mengatakan ULN swasta tetap didominasi utang jangka panjang dengan pertumbuhan mencapai 3,4 persen, meningkat dibandingkan dengan Januari 2021 sebesar 2,5 persen.

Erwin menyebut, perkembangan ini didorong oleh pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sebesar 5,9 persen. Angka itu, sambung dia, lebih tinggi dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,1 persen.

Bagikan berita ini:
1
3
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar