Kebahagiaan Warga Kampung Buttue, Alhamdulillah Ada Musala, Bisa Salat Berjemaah di Kampung Sendiri

Jumat, 16 April 2021 17:40

FAJAR.CO.ID — Kerinduan warga kampung Buttue memiliki masjid sendiri terpenuhi. Salat lima waktu dan tarawih secara berjemaah pada Ramadan tahun ini, sudah bisa di kampung sendiri.

Laporan: SAKINAH FITRIANTI

KUMANDANG suara azan kini terdengar lebih jelas dan lantang. Warga pesisir Buttue, Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang, Pangkep, kini dapat mendengar langsung suara azan dari pengeras suara musala yang ada di desanya.

Salat Tarawih Ramadan tahun ini juga sudah bisa dilakukan di kampung sendiri. Tahun-tahun sebelumnya, warga Buttue sudah bersiap-siap ke masjid untuk salat tarawih, begitu selesai buka puasa dan salat magrib.

Puluhan tahun, warga mesti berjalan kaki puluhan kilometer ke desa lain untuk bisa salah berjemaah. Itu karena tidak ada fasilitas rumah ibadah masjid di desanya sendiri.

Masjid yang sering didatangi untuk salat Isya dan Tarawih berjemaah antara lain, Masjid Kassi Kebo di Kecamatan Ma’rang, Masjid Pekka Baru di Kecamatan Labakkang hingga menyeberang ke Pulau Salemo di Kecamatan Liukang Tupabiring.

Kini, dengan keberadaan musala berukuran 5×5 meter, puluhan warga yang bermukim di pesisir itu sudah sangat bersyukur. Mereka tak lagi berjalan jauh, bahkan menumpang perahu untuk sampai ke masjid.

Imam masjid, Muh Umar Kadir mengungkapkan, pertama kali dipanggil menjadi imam di musala itu usai meresmikannya, bulan lalu.

“Pada saat peresmian pertama, saya imam salatnya. Sekaligus waktu itu salat Jumat pertama warga di Buttue di musala kampung sendiri,” katanya.

Umar pun dijemput menggunakan perahu untuk menjadi imam di musala Kampung Buttue. Sebab, jika harus berjalan kaki, akan memakan waktu setengah jam hingga satu jam perjalanan menyusuri sungai dan tambak.

“Dijemput pakai perahu lewati saluran tepi tambak dan sungai. Kalau jalan kaki sangat jauh. Jadi memang akses yang cepat dengan menumpang perahu warga,” jelasnya.

Sementara imam salat tarawih tiap malam di Musala Kampung Buttue juga kerabat Umar, yakni Imam Guru Samadong. Meski sudah usia lanjut, dia tetap antusias menjadi imam di Kampung Buttue.

Setelah berbuka puasa, perahu kecil sudah siap mengantarnya sampai ke Kampung Buttue. Selepas melaksanakan salat tarawih, Imam ini kembali diantar menggunakan perahu ke Kampung Sapanjang, Desa Kanaungan.

“Sudah berbuka puasa, pak Imam sudah dijemput dengan perahu. Begitu juga kalau sudah selesai. Diantar lagi. Setiap hari Imam Guru bertugas menjadi imam tarawih selama Ramadan kali ini,” bebernya.

Meski musala hanya mampu memuat 30 hingga 40 orang, warga sekitar sudah sangat bersyukur dengan adanya musala yang dibangun oleh pemerintah desa setempat. Ukurannya memang hanya 5×5 meter dengan dinding dan atap terbuat dari seng dan di bawahnya mengalir air sungai. Namun, kebahagiaan warga tak ternilai.

“Alhamdulillah, Ramadan kali ini sangat berbeda. Kita tidak jauh-jauh lagi tarawih. Karena disini juga sudah bisa. Tidak lagi ke kampungnya orang. Ini pertama kalinya kita bisa tarawih di kampung sendiri. Sudah lama sekali kami rindukan suasana seperti ini,” kata Seliyanti, warga Kampung Buttue.

Tak jauh dari lokasi itu juga sudah ada pembangunan masjid yang digagas Yayasan Masjid Nusantara. Diperkirakan masjid itu rampung sebelum lebaran Idulfitri nanti.

“Sementara pembangunan. Kami usahakan ini rampung sebelum Ramadan. Ukuran masjidnya 11×11 meter. Insya Allah memuat lebih dari 50 jemaah nantinya,” kata Panji, anggota Yayasan Masjid Nusantara. (*)

Bagikan berita ini:
4
4
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar