Fadli Zon Sebut Bikin Demokrasi Jeblok, Ustaz Hilmi: Semoga yang Dimaksud Radikal Bukan ASN yang Rajin Salat

Selasa, 20 April 2021 11:50

Ilustrasi ASN

FAJAR.CO.ID — Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Reformasi dan Birokrasi (MenPANRB) Tjahjo Kumolo menilai saat ini ASN banyak terpapar radikalisme sehingga pemerintah banyak kehilangan orang-orang pintar.

“Kami banyak kehilangan orang-orang pintar yang seharusnya bisa duduk di eselon 1, yang dia seharusnya bisa duduk di eselon 2, yang seharusnya dia bisa Jadi Kepala Badan atau lembaga, tapi dalam TPA (Tes Potensi Akademik), dia terpapar dalam masalah radikalisme terorisme, ini tanpa ampun,” kata Tjahjo di Jakarta, Minggu (18/4/2021).

“Kami sudah ada datanya semua lewat medsosnya yang dia pegang, kedua lewat PPATK dan sebagainya. Saya kira ini kita harus cermati secara bersama-sama,” sambungnya.

Terkait hal itu, Ustaz Hilmi Firdaus menanyakan tuduhan pemerintah ke aparatur sipil negara (ASN) yang disebut-sebut banyak terpapar radikalisme.

Ustad Hilmi berharap, semoga yang dimaksud radikal bukan ditujukan kepada mereka yang istiqomah jalankan syariat Islam.

“Banyak ASN radikal? Semoga yang dimaksud bukanlah ASN yang rajin ke masjid, pakai celana cingkrang, berjanggut dan ada bekas tanda sujud di dahinya,” ujar Ustad Helmi di Twitter-nya, Selasa (20/4).

Dia meminta pemerintah agar lebih tegas mendefisinikan arti radikalisme yang selama ini kerap didengungkan.

“Mohon diperjelas apa definisi radikal yang dimaksud menurut pemerintah,” ucap Hilmi.

Setidaknya, pendapat Hilmi senada dengan Anggota DPR Fadli Zon. Politikus Partai Gerindra ini menilai, harus ada evaluasi tentang arti radikalisme. Sebab tuduhan radikalisme selalu dituduhkan kepada yang beragama Islam.

Bagikan:

Komentar