Ekspor Non Migas Jadi Komponen Utama Pertumbuhan Surplus Neraca Perdagangan

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Perlahan tapi pasti, sinyal pemulihan ekonomi Indonesia terus menguat di tengah pandemi Covid-19. Salah satu tolok ukurnya neraca perdagangan kembali surplus dengan nilai US$1,57 miliar.

Ekspor non migas menjadi komponen utama pertumbuhan surplus neraca perdagangan merupakan hal yang menggembirakan.

"Momentum ini perlu terus dijaga, agar kita bukan hanya mampu keluar dari krisis, tetapi juga tumbuh secara lebih baik. Nanti setelah pandemi usai,” jelas Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Ekonomi Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono dalam keterangannya, Minggu (25/4/2021).

Ia mengatakan, surplus neraca dagang tersebut tidak lepas dari transaksi perdagangan luar negeri (ekspor/impor), khususnya sektor industri.

Terlihat dari peningkatan yang terjadi pada impor barang modal dan bahan baku penolong yang meningkat hingga 33,7% secara year on year (yoy). Hal yang sama terjadi untuk impor bahan baku, mengalami peningkatan secara yoy sebesar 25,82%.

Secara implisit, hal itu menunjukkan bahwa sektor industri (sebagai pemakai barang modal dan bahan baku) terus menggeliat dan bangkit di masa pandemi.

Edy menyebut, catatan ini patut disyukuri di tengah kesulitan ekonomi pada masa pandemi. “Apalagi pada April 2020 lalu, neraca perdagangan kita sempat defisit,” ungkap Edy.

Indikator kinerja industri (Prompt Manufacturing Index) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi.

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, PMI Indonesia berada pada level 50,01, naik dari 47,29 pada kuartal IV-2020. Dari sini, Edy melihat, sektor industri sudah mulai memasuki zona ekspansi (PMI lebih dari 50). PMI pun diperkirakan terus membaik dan menjadi 55,25 pada kuartal II-2021.

  • Bagikan