Khawatir Situasi Myanmar, Malaysia Desak Kekerasan dan Pembunuhan Harus Diakhiri

Minggu, 25 April 2021 17:09

INTIMIDATIF: Junta militer Myanmar mengerahkan tank-tank ke jalanan untuk meredam aksi warga yang memprotes kudeta. (AUN...

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Malaysia melontarkan keprihatinan dan seruan keras atas kekerasan dan kerusuhan yang terjadi dalam krisis Myanmar. Pernyataan itu disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia Yab Tan Sri Muhyiddin Yassin dalam pertemuan para pemimpin ASEAN (ALM) di Jakarta, Sabtu (24/4).

Malaysia menyebut situasi di Myanmar sangat serius. Padahal selama ini, kata dia, Myanmar merupakan mitra baik Malaysia.

“Situasi menyedihkan di Myanmar harus segera dihentikan. Malaysia percaya pembunuhan dan kekerasan harus diakhiri. Semua pihak harus segera menahan diri dari setiap provokasi dan tindakan yang akan dilakukan melanggengkan kekerasan dan kerusuhan,” tegas PM Muhyiddin dalam keterangan resminya.

Dirinya menyadari bahwa memang benar sebagai Negara Anggota ASEAN menjunjung tinggi prinsip non-campur tangan dalam urusan internal Negara Anggota ASEAN lainnya, sebagaimana yang tertuang dalam Piagam ASEAN. Namun situasi di sana disebutnya sudah serius.

“Namun, bukan berarti kita harus mengabaikan situasi serius yang membahayakan perdamaian, keamanan, dan stabilitas ASEAN dan kawasan yang lebih luas,” tegasnya.

“Prinsip non-interferensi ini bukan untuk kita bersembunyi di balik masalag, itu tidak bisa menjadi alasan kelambanan kita. Krisis yang terjadi di satu negara Anggota ASEAN tidak akan selesai dengan sendirinya tanpa mempengaruhi negara anggota lainnya,” tambahnya.

Dalam konteks inilah, kata dia, Malaysia sangat prihatin tentang situasi yang telah berlangsung di Myanmar dalam beberapa bulan terakhir. PM Muhyiddin menilai banyak orang di dunia menginginkan penjelasan, dan Malaysia merasa semakin sulit untuk menjelaskannya.

Komentar