Bisnis Batu Bara Menggeliat, Warga Hanya Penonton

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, TENGGARONG – Pemandangan kontras antara geliat bisnis hilir tambang batu bara di laut, dibandingkan kesejahteraan warga di pesisir Kecamatan Marangkayu menuai sorotan. Meski bertetangga, warga disebut hanya mendapat dampak lingkungan.

Aroma khas ikan asin menusuk hidung. Tak jauh dari jalan utama yang masih berupa jalan tanah itu, ada tulisan “Hati-Hati Buaya”. Pertanda kawasan tersebut merupakan muara pertemuan sungai dan laut.

Beberapa kali terlihat warga memantau ikan asin yang dijemur di bawah terik matahari. Ada juga yang turun ke sungai sambil membawa ember berisi ikan.

Pemandangan di kawasan Tanjung Santan, Desa Semangko, Kecamatan Marangkayu itu begitu khas. Di ujung jalan tanah, terdapat dua kantor perwakilan Dirjen Perhubungan Laut (Hubla), Kementerian Perhubungan RI. Yaitu kantor Navigasi dan KUPP Kelas III Tanjung Santan.

Dari tepi daratan, terlihat kapal vessel raksasa yang menjadi penanda geliat bisnis hilir tambang batu bara. Di mana aktivitas pelayaran dan bongkar muat sudah lama di kawasan ship to ship (STS) Muara Berau.

Namun, sejauh ini warga setempat hanya bisa menjadi penonton lantaran tak mendapat percikan rezeki dari aktivitas tersebut. Hal itu disampaikan Kades Semangko Ansar kepada Kaltim Post. Sejauh ini, lanjut dia, masyarakat sama sekali tidak mendapat peluang perekonomian dari aktivitas di laut Marangkayu tersebut.

  • Bagikan