Babi Ngepet dan Bukti Kesenjangan Sosial yang Semakin Lebar

Rabu, 28 April 2021 22:01

Kerumunan warga yang hendak melihat babi yang diduga babi ngepet.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sekelumit fenomena sosial masyarakat seringkali membingungkan bahkan tidak masuk logika berpikir akal sehat. Sesuatu yang mengandung unsur fantasi terkadang kita dipaksa untuk menerimanya di kehidupan nyata. Salah satunya fenomena yang baru-baru ini bikin geger publik. Babi ngepet.

Warga Kelurahan Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat heboh dengan tertangkapnya seekor babi hutan berbulu hitam. Warga mempercayai jika itu adalah babi ngepet. Makhluk jadi-jadian atau yang kerap disebut siluman yang tugasnya mencuri uang, emas, dan harta berharga lainnya.

Warga setempat mengaku sering kehilangan uang di rumah mereka. Jumlahnya variatif, dari Rp500 ribu hingga jutaan rupiah. Babi hitam itu menjadi tertuduh utamanya. Makanya mereka getol memburunya.

Sampai katanya, 7 orang warga yang menangkapnya harus bugil. Singkat cerita babi itu tertangkap, lalu disembelih, dan jadi tontonan warga. Geger bukan main. Fenomena apakah ini?

Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr Sawedi Muhammad memaparkan, fenomena babi ngepet dalam kajian sosiologi disebut sebagai eskapisme sosial (social escapism).

Eskapisme dianggap sebagai pembebasan dari kondisi mental yang rapuh dan fragile. Fantasi dan entertainmen sebagai wujud eskapisme dianggap sebagai jalan keluar dari kondisi keseharian masyarakat yang dibebani rutinitas yang membosankan.

“Eskapisme adalah bagian yang tak terpisahkan dari terjadinya perubahan sosial psikologis di masyarakat mana pun. Ia adalah fenomena bawaan dari manusia yang memiliki keterbatasan dalam memberi penjelasan atau penafsiran logis dari peristiwa yang sedang berlangsung,” jelas Dr Sawedi kepada fajar.co.id, Rabu (28/4/2021).

Sawedi menyebut, masyarakat paling modern sekalipun tidak akan lepas dari fenomena eskapisme ini.

Babi ngepet yang digambarkan sebagai jalan pesugihan adalah eskapisme masyarakat pinggiran yang terbebani dengan rutinitas kemiskinan dan keterpurukan.

Penderitaan yang dialami seakan tidak punya jalan rasional untuk keluar dari lingkaran setan yang membelenggunya.

Sehingga kata Sawedi, muncullah fantasi babi ngepet yang secara tradisi digambarkan sebagai manusia berwujud babi, mencuri uang, emas dan harta benda lainnya agar yang bersangkutan bisa menjadi kaya raya.

“Ini jelas-jelas fantasi karena dalam sejarahnya tidak pernah ditemukan babi berwujud manusia. Babi hanyalah imajinasi dari kerakusan dan ketamakan, dominasi dan penindasan,” terangnya.

Menurut Sawedi, babi dalam kenyataannya memakan apa saja termasuk kotorannya sendiri. Saat isu babi ngepet mengemuka berarti gambaran bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial semakin lebar, kesusahan hidup semakin menyiksa mereka yang berada di lapis stratifikasi sosial yang paling bawah.

“Babi ngepet adalah satire sosial dalam bentuk entertainmen yang menyindir situasi struktural yang melanggengkan penderitaan dan kemiskinan kaum pinggiran,” pungkasnya. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
10
1
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar