Konflik Kerajaan Gowa dan Bone di Masa Lalu, Andi Kumala Idjo: Tidak Perlu Lagi Dipertentangkan

Senin, 3 Mei 2021 11:57

Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Batara Gowa III, Sultan Malikud Said 2, Raja Gowa XXXVIII

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Konflik antara Kerajaan Gowa dengan Bone telah terukir dalam sejarah kehidupan kerajaan di Sulawesi Selatan.

Dilansir dari Jurnal Walasuji Kemendikbud RI, Kehidupan politik di Sulawesi Selatan pada dasarnya dibangun secara kekeluargaan.

Namun, setelah datangnya bangsa penjajah, salah satu strategi yang tidak terlupakan oleh Speelman dan tata ulang perjanjian dengan raja-raja di Sulawesi Selatan adalah politik adu domba.

Dalam salah satu butir Perjanjian Bungaya, raja-raja dan kerajaannya masing-masing dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok Bugis yang berada di bawah kepemimpinan Kerajaan Bone. Kelompok kedua adalah kelompok Makassar yang berada dalam kepemimpinan raja Gowa.

Bugis dan Makassar sejak dahulu menguasai daerah-daerah subur dan mempunyai akses terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis. Mereka menjadi suku-suku yang dominan dalam hal politik. Persaingan terus tumbuh, kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan senantiasa di bawah tekanan Bone dan Gowa.

Sementara itu, saat ini para keturunan kerajaan mencoba tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Hal ini pun telah diwadahi oleh Majelis Adat Kerajaan Nusantara yang telah dibentuk di pusat maupun di Sulsel.

Dijelaskan dalam berita acara rapat pleno panitia formatur pembentukan DPW MAKN Sulsel periode 2021-2026, tercatat 41 kerajaan di Sulsel yang telah terdaftar setelah melalui tahap verifikasi.

PYM Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Batara Gowa III, Sultan Malikud Said 2, Raja Gowa XXXVIII, Dewan Kerajaan Nusantara 08 mengatakan, peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu cukup menjadi pelajaran untuk saat ini dan masa yang akan datang.

Bagikan berita ini:
8
10
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar