Dian Covid Kedua

Selasa, 4 Mei 2021 09:00

Disway

Tapi Dian itu cerdas. Dia akhirnya diterima di RCTI dengan syarat: jangan mencantumkan kata Fatwa di belakang nama Dian. Bidang liputannyi pun dibatasi: bukan bidang politik.

Ketahuan.

Dian bikin heboh. Ia meliput pembebasan Fatwa dari penjara. Liputannyi bagus –di mata publik. RCTI menyiarkannya. Tapi liputan itu tidak bagus –di mata Cendana. Lalu diselidiki. Terbongkarlah. Yang meliput itu Dian. Yang ternyata anak Fatwa.

Dian lantas ke Australia. Dia diterima di ABC Australia. Toh Dian dulunya kuliah di Australia. Bahkan sejak SMA. Dian kerasan di sana. Sampai 18 tahun. Bahkan berhasil masuk ke jajaran eksekutif ABC.

“Saya bisa masuk di jajaran eksekutif karena saya perempuan. Tidak lahir di sana. Bahasa Inggris bukan bahasa pertama. Ini yang dicari. Ranking perusahaan akan naik bila kehadiran diverse background muncul dalam manajemen, bukan didominasi kulit putih,” tulisnyi pada Disway.

Dian sudah sangat nyaman di sana. Bahkan setiap kali bertemu orang Australia di Jakarta selalu ditanya: kapan pulang. Dian sudah dianggap orang Australia. Pulangnya ke Australia. Dia juga merasa dihargai di sana. Sampai pun menjadi kepala departemen Asia Tenggara di ABC.

Tapi akhirnya Dian harus pulang.

Dian harus hidup di Jakarta.

Itu untuk memenuhi wasiat bapaknyi. Wasiat itu disampaikan AM Fatwa menjelang beliau meninggal. Bahwa Dian harus pulang.

Bagikan berita ini:
4
5
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar