Sindir Moeldoko, Yan Harahap: Kok ‘Pembohong’ Dibiarkan ‘Bercokol’ di Istana?

Selasa, 4 Mei 2021 10:37

Moeldoko dan Yan Harahap. (int)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku tidak pernah berbincang dengan Presiden Joko Widodo terkait Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB Sibolangit.

Deputi Strategi dan Kebijakan Balitbang DPP Demokrat Yan Harahap ikut berkomentar soal pengakuan Moeldoko itu.

Menurutnya, apa yang disampaikan Moeldoko itu jauh berbeda saat dirinya didapuk menjadi Ketua Umum saat KLB di Deli Serdang, Sumatera Utara.

“Padahal kepada para kader PD ia menyebut sudah dapat restu. Makanya PD berkirim surat ke Presiden menanyakan hal itu. Akhirnya ngaku. Ternyata bohong,” kata Yan Harahap di akun Twitternya, Selasa (4/5/2021).

Dia pun heran, dengan perbuatan Mantan Panglima TNI itu, Presiden Jokowi masih memberikan kepercayaan untuk menjabat di KSP.

“Kok ‘pembohong’ dibiarkan ‘bercokol’ di Istana?,” ungkap anak buah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu.

Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku dalam sebuah perbincangan dengan Presiden Joko Widodo pada suatu waktu, Jokowi menyebut Moeldoko punya hak politik.

Hal itu dikatakannya dalam acara Saatnya Perempuan Bicara tvOne. Moeldoko saat itu ditanya soal artikel berita berjudul ‘Moeldoko:Saya Khilaf, Saya Tak Mau Bebani Presiden’. Host dalam acara tersebut lantas bertanya kepada Moeldoko konteks pernyataannya dalam artikel tersebut.

“Dalam sebuah perbincangan dengan beliau (Jokowi), Beliau pernah mengatakan ‘Pak Moeldoko punya hak politik’. Saya punya hak politik untuk melakukan sesuatu yang saya yakini benar. Saya pikir enggak ada masalah, sepanjang saya seorang profesional yang tidak pernah terganggu oleh pekerjaan saya, oleh hal-hal yang di luar itu jangan sampai mengganggu yang saya lakukan. Selama ini saya bekerja oke-oke aja gitu. Itu jadi enggak ada masalah,” ucap Moeldoko dikutip dari YouTube tvOne, Senin (3/5/2021).

Komentar