Istikamah Menjaga Rahasia

Sabtu, 8 Mei 2021 16:54

Kekuatan Doa

Pertanyaan:Bolehkah membocorkan rahasia yang menyimpan aib pribadi seseorang karena telah menyakiti kita?(Haris-Makasar)

Jawaban:Pada dasarnya, rahasia diketahui untuk dijaga. Beratnya menjaga rahasia karena sering diadang situasi yang mengarahkan kita mengungkapkannya. Butuh keteguhan hati untuk menjaganya. Jika dibandingkan dengan menjaga amanah harta, rahasia jauh lebih berat. Jika tidak bisa amanah, lebih baik jangan mendengarnya. Hal itu jauh lebih baik daripada terbebani.

Kita sering menyaksikan orang bersahabat hingga seolah tak ada lagi yang tersembunyikan di antara keduanya karena saling percaya. Hingga suatu ketika mereka berselisih atau beda kepentingan, rahasia menjadi semacam “amunisi” untuk menyerang sahabatnya. Pasangan suami-istri juga demikian. Saling umbar aib. Sikap amanah pun tergadaikan.

Jika menjaga rahasia adalah sebuah kewajiban, maka mengumbarnya pun pasti terlarang. Sebab, akan berbuntut buruk ke pemilik rahasia. Pengumbar rahasia telah “menelanjangi” pemilik rahasia. Karena itu, jaga rahasia dan jangan mudah mengumbarnya kecuali pada orang yang amanah.

Salah satu pesan Ali ibn Abi Thalib radhiallahu anhu menyatakan, “Rahasiamu adalah tawananmu. Jika engkau menceritakannya, niscaya engkau telah menjadi tawanan rahasiamu”. Kita memulai dari diri sendiri untuk menjaga rahasia pribadi dan keluarga. Berlanjut ke orang lain yang mengetahui untuk menutupinya.

Dalam konteks ini, seorang yang beriman identik dengan kemampuan menjaga amanah dan menepati janji (QS. al-Mu’minun: 8). Dengan begitu, membocorkan rahasia sahabat adalah bentuk kemunafikan.

Bagikan berita ini:
3
2
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar