Revolusi Energi untuk Negeri (1)

Rabu, 12 Mei 2021 09:30

Disway

Oleh: Dahlan Iskan

YANG saya bicarakan ini adalah listrik untuk usaha. Untuk bisnis –perdagangan dan terutama industri.

Bukan listrik untuk rumah tangga.

Amerika Serikat mendapatkan sumber utama listrik dari gas yang murah. Tiongkok dari tenaga air yang lebih murah. Satu bendungan di Sungai Chang Jiang saja, kapasitasnya hampir sama dengan kebutuhan listrik seluruh Jawa saat ini: 29.000 MW.

Itu hanya contoh. Kita tidak akan membandingkannya dengan negara lain. Untuk apa. Mereka sudah maju. Posisi mereka sudah bisa mendikte negara miskin.

Saya membicarakan Indonesia. Yang ingin maju. Yang harus punya daya saing. Terutama di dunia usaha dan industrinya.

Selama ini, untuk punya daya saing itu, kita terus mempersoalkan perizinan, sogok-suap, dan produktivitas manusia. Juga kreativitasnya. Saya akan melengkapinya dengan penyediaan energi yang murah.

Misalkan perizinan, sogok-suap, dan produktivitas manusia sudah bisa kita perbaiki. Apakah otomatis akan bisa mengalahkan negara maju? Atau negara tetangga?

Asumsi saya, kita bisa memperbaiki itu semua. Harus. Tapi, hasilnya, maksimum kita hanya akan bisa menyamai mereka. Itu maksimum. Bukan mengalahkan. Berarti –pun kalau sukses– posisi kita tetap akan di belakang.

Maka, energi yang murah adalah satu aspek yang insya Allah –hampir saja saya menulis kata ”pasti”– bisa membuat kita menang. Dengan energi murah, daya saing kita tidak akan tertandingi.

Bagikan berita ini:
4
5
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar