Budaya Rujak Pare

Sabtu, 15 Mei 2021 09:00

Disway

Oleh: Dahlan Iskan

MAKANLAH rujak pare dan sambal jombrang. Tiap tanggal  13 Mei –seperti Kamis lalu. Begitulah cara baru mengenang kerusuhan Mei 1998.

Memang ada yang menempuh cara budaya untuk memperingati kerusuhan besar itu. Itulah kerusuhan yang menjadi tonggak munculnya era demokratisasi di Indonesia sekarang ini.

Yang menggagas gerakan ”rujak pare dan sambal jombrang” ini adalah tokoh Tionghoa Semarang: Harjanto Halim. Nama Tionghoanya Liem Toen Hian (林敦贤).

Gerakan makan “rujak pare dan sambal jombrang” ini disertai pakai pita hitam di lengan. Cara itu melengkapi cara-cara lain yang ada selama ini.

Misalnya ada kelompok yang minta peristiwa harus dilupakan saja. Agar tidak mengusik ketenangan yang sudah tercipta.

Ada pula yang ingin memaafkannya tapi jangan melupakannya. Ada lagi yang ngotot agar peristiwa tersebut  harus diusut siapa dalangnya. Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan.

Harjanto memilih jalan budaya. Ia ingin setiap tanggal 13 Mei, masyarakat Tionghoa membuat rujak pare dan sambal jombrang. Yang sangat  pedas. Harjanto sampai menciptakan resep sendiri. Juga uraian bagaimana cara pembuatannya. Resep itu  sudah ia masyarakatkan lewat medsos.

Ia sendiri punya medsos yang ia namakan ”DaHar” –Dapur Harjanto. Dahar –yang dalam bahasa Jawa berarti makan– memuat banyak kegiatan dari rumah perkumpulan Boen Hian Tong (BHT). Harjanto sendiri adalah ketua BHT –yang dalam bahasa Indonesia disebut Perkumpulan Rasa Darma Semarang.

Bagikan berita ini:
9
10
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar