Marzuki Alie Ngaku Korban Kedzaliman, Yan Harahap: ‘Penghianat’ Ini Benar-benar Tak Tahu Malu

Sabtu, 22 Mei 2021 11:03

Marzuki Alie dan Yan Harahap

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Pernyataan mantan pengurus dan kader Partai Demokrat Marzuki Alie bahwa dirinya merupakan korban kedzaliman langsung direspons Deputi Strategi dan Kebijakan Balitbang DPP Demokrat Yan Harahap.

Yan Harahap bahkan menyebut mantan Ketua DPR yang ikut terlibat dalam Kongres Luar Biasa (KLB) ilegal Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara itu tak punya malu.

“‘Pengkhianat’ ini benar-benar tak tahu malu. Jelas-jelas ia pendukung utama KLB ilegal, ‘kepergok’ di Bandara Kualanamu, hadir saat KLB Ilegal diadakan, menjadi Dewan Pembina di KLB abal-abal itu,” kata Yan Harahap dikutip Fajar.co.id di akun Twitternya, Sabtu (22/5/2021).

Yan menilai pernyataan Marzuki Alie yang merasa jadi korban kedzaliman anak muda di partai berlambang bintang mercy itu sebagai salah salah satu bentuk playing victim.

“Eeh.. sekarang dia playing victm pula. ‘Pengkhianat’ partai ya dipecat!,” sebut Anak buah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu.

Sebelumnya, Marzuki Alie menyebutkan bahwa dirinya adalah korban penzaliman anak-anak muda Partai Demokrat yang tidak mengerti sejarah.

“Saya adalah orang yang dizalimi oleh anak-anak muda yang menganggap bahwa mereka adalah owner dari Partai Demokrat. Padahal sejarah perjalanan Partai Demokrat mencatat, kami berjuang bersama tatkala partai ini masih nothing sehingga menjadi something,” kata Marzuki kepada wartawan usai mengikuti persidangan mediasi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (20/3/2021).

Menurutnya ada empat kezaliman yang dilakukan DPP Partai Demokrat kepada dirinya pribadi. Pertama Marzuki merasa dikhianati lantaran pada awal pendirian Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkomitmen membangun partai modern, partai terbuka dan bukan dinasti.

“Namun sejak 2013 sudah mulai mengarah menjadi dinasti dan tahun 2021 terbukti menjadi dinasti dengan menempatkan ketua umum dan ketua majelis tinggi menjadi penguasa tertinggi serta diatur sedemikian rupa sehingga partai menjadi milik keluarga,” jelasnya.(msn-int/fajar)

Bagikan berita ini:
4
8
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar