Pasien Covid-19 Terserang Penyakit Jamur Hitam

Senin, 24 Mei 2021 13:51

Seorang dokter memeriksa rontgen endoskopi hidung untuk mendeteksi jamur hitam pada pasien Covid di sebuah rumah sakit d...

FAJAR.CO.ID — Kasus mucormycosis di India melonjak tajam. Penyakit yang dinamai black fungus atau jamur hitam tersebut dilaporkan ada lebih dari 8.800 kasus.

Mucormycosis seharusnya adalah infeksi yang jarang terjadi. Peningkatan terjadi seiring dengan naiknya kasus Covid-19.

Penyakit itu memiliki rata-rata mortalitas 50 persen. Beberapa orang bisa selamat dengan cara diambil bola matanya.

Ribuan kasus mucormycosis di India terjadi pada pasien yang sedang dalam tahap penyembuhan maupun yang sudah benar-benar sembuh dari Covid-19.

Para dokter meyakini bahwa hal tersebut terkait dengan penggunaan obat-obatan steroid untuk menangani pasien Covid-19. Biasanya infeksi itu menyerang 12 hingga 18 hari setelah pasien sembuh.

Karena ada lonjakan mucormycosis, 29 negara bagian di India diminta melapor jika ada kasus infeksi tersebut. Lebih dari separo kasus itu terjadi di Gujarat dan Maharashtra.Setidaknya 15 negara bagian lainnya melaporkan ada antara 8 hingga 900 kasus. Mayoritas pasien adalah lelaki yang baru sembuh dari Covid-19 lewat obat steroid dan memiliki riwayat diabetes.

Bangsal baru yang dikhususkan untuk pasien mucormycosis langsung penuh dengan cepat.Di Maharaja Yeshwantrao Hospital misalnya. Sepekan lalu hanya ada 8 pasien mucormycosis, tapi Sabtu petang (22/5) jumlahnya naik menjadi 185 orang. Padahal, sebelum pandemi, paling hanya ada satu sampai dua kasus mucormycosis per tahun di rumah sakit tersebut.

”Lebih dari 80 persen pasien membutuhkan operasi secepatnya,” ujar Kepala Departemen Pengobatan Maharaja Yeshwantrao Hospital Dr VP Pandey seperti dikutip BBC.

Jika tidak segera ditangani, kemungkinan pasien meninggal naik menjadi 94 persen. Pengobatan penyakit ini mahal dan obat-obatannya sedikit yang tersedia.

Terpisah, pemerintah India memerintahkan agar semua perusahaan media sosial menghapus konten yang merujuk pada penyebutan virus SARS-CoV-2 varian India.Kementerian Teknologi Informasi menyatakan bahwa WHO mendaftarkannya atas nama varian B.1.617. Karena itu, menyebutnya sebagai varian India adalah hal yang salah.

Penyebutan berdasar area muncul kali pertama bukan hanya di India. Mutasi lain juga disebut dengan nama negaranya. Misalnya saja varian Inggris dan varian Afrika Selatan. (jpc)

Bagikan berita ini:
9
6
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar