Pemerintah Terkesan Memaksakan Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5%, Gerindra: Bisa Jadi Bumerang!

Selasa, 25 Mei 2021 17:50

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menilai Asumsi atau koreksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 sampai 5,8 persen memberikan kesan pemerintah memaksakan pertumbuhan ekonomi yang harus lebih dari 5 persen.

Hal tersebut malah bisa menjadi bumerang bagi pemerintah. Pasalnya, tahun-tahun sebelumnya target pertumbuhan ekonomi pemerintah juga selalu meleset.

Demikian disampaikan Anggota DPR RI Ade Rizky Pratama saat membacakan Pandangan Fraksi Partai Gerindra terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM dan PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2022 dalam sidang Paripurna, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube resmi DPR, Selasa (25/5/2021).

“Pada tahun 2019, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen namun realisasinya hanya mencapai 4,02 persen padahal hal itu belum terjadi pandemi Covid-19. Dan pada tahun 2020 yang telah direvisi karena dampak pandemi realisasinya juga masih macet dengan kontraksi minus 2,07 persen,” ucap Ade Rizky.

Pada Kuartal pertama tahun 2021, sambungnya, ekonomi masih belum mampu mencapai pemulihan ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan angka positif.

Masih mengalami kontraksi dengan minus 0,74 persen, meski pada pertengahan Februari 2021 pemerintah melalui Menteri Keuangan telah merevisi target pertumbuhan yang ditetapkan oleh APBN tahun 2021 dari kisaran 4,5 sampai 5,5 persen menjadi 4,3 sampai 5,3 persen.

“Jika pemerintah masih menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 pada rentang 4,3 persen, maka Fraksi Partai Gerindra DPR RI meyakini dan mendorong pemerintah agar lebih keras lagi harus mengejar pertumbuhan ekonomi pada Kuartal ke-2, 3 dan 4. Capaian pada Kuartal 1 tahun 2021 masih minus yang harus ditutup dengan pertumbuhan pada kuarter kuarter berikutnya,” terangnya.

Bagikan berita ini:
2
6
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar