Ikut Terima Uang dari Agung Sucipto, Sari Pudjiastuti Ngaku Ikut Perintah Pimpinan

Kamis, 27 Mei 2021 21:14

Suasana persidangan di PN Makassar. (FOTO: IKBAL/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar kembali menggelar sidang terdakwa Agung Sucipto dalam kasus suap infrastruktur di Sulsel, Kamis (27/5/2021).

Agenda sidang kali ini, PN Makassar menghadirkan sembilan saksi yang berasal dari Biro Pengadaan Barang dan Jasa Pemrov Sulsel. Salah satunya, mantan Kepala Biro, Sari Pudjiastuti.

Di hadapan hakim, Sari mengakui bahwa ia kerap dititipkan nama perusahaan yang akan mengerjakan proyek di Sulsel. Meskipun tetap menjalani proses tender.

Salah satunya, pembangunan Jalan Ruas Palampang – Munte – Bontolempangan (DAK) TA 2020, dan Pembanguan Jalan Ruas Palampang Munte Bontolempangan Satu.

Dengan nilai sekitar Rp15.7 Miliar 2020, proyek tersebut dimenangkan oleh PT Cahaya Seppang Bulukumba (CSB) milik Agung Sucipto.

Saat ditanyai oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sari Pudji mengaku ia hanya mengikuti perintah Nurdin Abdullah sebagai atasannya pada saat itu. Bahkan ia mengakui telah menerima uang sebesar Rp160 juta, dari empat kontraktor berbeda.

Dengan rincian, Rp25 juta dari Agung Sucipto, Rp50 juta dari Hj Indah PT Makassar Indah, Rp50 juta dari Andi Kemal selaku pemilik PT Kurnia Mulia Mandiri, dan Rp35 juta dari Hj Momo.

Namun, semuanya telah ia kembalikan kepada KPK setelah penetapan NA sebagai tersangka. Ia juga membeberkan, Hj Momo merupakan kontraktor yang pernah memberikan uang sebesar Rp1 miliar kepada NA

Hal ini ia ungkapkan setelah Zainal Abidin sebagai salah satu JPU menanyakan apakah Nurdin Abdullah pernah menerima uang dari kontraktor lain.

“Ada Pak, Rp1 miliar, itu di Desember 2020. Suatu ketika saya diminta ke Rujab oleh ajudan Pak Gubernur, seperti biasa untuk melaporkan progres lelang,” katanya, kepada JPU.

“Dia lalu mengatakan, jika ia memerlukan biaya oprasional Rp1 miliar, dan dia bertanya siapa yang bisa membantu. Setelah itu saya menyampaikan bahwa itu tergantung beliau, dan Pak NA memilih Haji Momo,” lanjutnya.

Setelah itu melalui orang kepercayaannya Hj Momo menyerahkan uang di sebuah penginapan, di samping RS Awal Bros, sebesar Rp1 miliar.

“Setelah diserahkan ke saya, saya simpan di rumah keponakan, saya pindahkan tempat ke koper. Setelah itu ajudan Pak NA, bernama Pak Salman mengambil uang tersebut di depan apartemen Vida View,” ungkapnya.

Setelah itu Zainal Abidin menanyakan, apakah perbuatan Sari Pudji tersebut dibenarkan dalam Undang-undang.

“Apakah menurut saudara apa yang saudara lakukan ini dibenarkan oleh UU? Kalau tidak, kenapa tetap dilakukan,” tanyanya.

Sari Pudjiastuti pun menjawab hal itu karena loyalitasnya kepada perintah pimpinan. “Kalau begitu kenapa saudara tetap terima uangnya? Jadi saudara mengakui bahwa saudara melakukan hal yang dilarang oleh undang-undang,” tanyanya lagi.

Sari Pudji pun mengakui keselahannya, dan meminta pengampunan. “Posisi saya serba salah pak, karena kalau saya tidak terima nanti dianggap melawan atau bagaimana. Dan saya memohon pengampunan,” tutup Sari Pudji.

Diketahui, Agung Sucipto hadir secara daring, melalui zoom di Lapas Klas I Makassar. Agung didampingi oleh tiga kuasa hukumnya di PN Makassar, M Nursal, Deni Kalimao, dan Bambang.

Sementara yang bertindak sebagai JPU yaitu, Zainal Abidin, Ronald Gorontikan, dan Ricky Benindomagas. Lalu selaku Hakim di persidangan yaitu, Ibrahim Palino, M Yusuf Karim, dan Arif Agus Nindito. (ikbal/fajar)

Bagikan berita ini:
3
8
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar