Raja Gowa Masih Cemaskan Makamnya, I Fatimah Ternyata Bergelar Garuda Betina dari Timur

Jumat, 28 Mei 2021 22:07

IST

Kabar penggusuran itu pertama kali mengemuka dari salah satu grup facebook, Suku Makassar Internasional II. Demikian juga akun Instagram @sissika.nusantara.

Bidang Pariwisata Dikporapar Kabupaten Mempawah sudah berkoordinasi dengan Polres Mempawah. Apalagi kabar yang beredar, Pulau Takontu telah dimiliki oleh salah satu pihak untuk membangun tempat kegiatan keagamaan di sana.

Dari catatan sejarah, I Fatimah mewarisi jiwa patriotik ayahnya. Bahkan, ia memimpin pasukan wanita atau disebut dengan Pasukan Bainea melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) milik Belanda.

Pasca perjanjian Bongaya, sejumlah bangsawan Gowa menolaknya. Di antaranya anak Sultan Hasanuddin, I Manninrori Karaeng Galesong, bersama Karaeng Bontomarannu, dan Karaeng Karunrung. Termasuk I Fatimah bersama Pasukan Bainea juga menolak perjanjian tersebut.

Setelah beberapakali I Fatimah meminta untuk turun berjuang melawan kolonialisme Belanda, ibunya pun akhirnya memberikan restu.

Ia pun dibekali dengan keris. Sumber lain menyebutkan , I Fatimah Daeng Takontu disebut memakai senjata bernama balira untuk melawan penjajah.

Seperti yang ditulis dalam buku “Profil Sejarah, Budaya, dan Pariwisata Gowa”, I Fatimah meninggalkan tanah kelahirannya beberapa bulan setelah Sultan Hasanuddin wafat. I Fatimah diikuti oleh para ratusan pasukan elite menuju Banten.

“Di antara pasukan yang dipimpin I Fatimah, terdapat banyak wanita yang dikenal sebagai Pasukan Bainea (pasukan wanita), yaitu semacam srikandi membantu perjuangan raja Gowa,” seperti yang ditulis dalam buku “Profil Sejarah, Budaya, dan Pariwisata Gowa”. Buku tersebut ditulis oleh Akademisi Unhas, Adi Suryadi Culla, Zainuddin Tika, dan Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Bagikan berita ini:
7
1
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar