Raja Gowa Masih Cemaskan Makamnya, I Fatimah Ternyata Bergelar Garuda Betina dari Timur

Jumat, 28 Mei 2021 22:07

IST

FAJAR.CO.ID, GOWA — Raja Gowa ke-38, Andi Kumala Idjo mengaku sudah bersurat ke Pemerintah Kabupaten Mempawah, soal kabar makam I Fatimah di Pulau Takontu yang bakal digusur dan masih ramai beredar saat ini.

Karaeng, sebutan Andi Kumala Idjo sebagai petinggi di Kerajaan Gowa saat ini masih menunggu respons dari pemerintah di sana. Apakah tetap dipertahankan sebagai cagar budaya atau rela tergusur oleh pembangunan.

Dalam waktu satu bulan ke depan, Karaeng siap menerima respons dari bupati di sana, terhadap nasib makam I Fatimah sebagai putri Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin.

“Kalau memang ini tidak ditetapkan dalam tempo sebulan ke depan, dampak buruknya kami keluarga besar kerajaan Gowa bersedia membawa kerangka beliau (I Fatimah) dikembalikan ke kami (di Kabupaten Gowa),” kata Karaeng, Jumat (28/5/2021).

Namun, lanjut Karaeng, ia yakin bahwa Pemda Mempawah tetap mempertahankan dua makam pahlawan yang berani melawan penjajah Belanda itu. Apalagi dua makam itu sudah masuk dalam cagar budaya.

“Itu jika dalam kondisi terburuk. Tapi saya yakin Pemda Mempawah dan jajaran dan balai sejarah dan cagar budaya tentu tidak melihat seperti ini. Ini sudah masuk cagar budaya oleh Pemda Mempawah sejak 2002. Ada juga peraturan bupati nomor 5 tahun 2020 tentang cagar budaya,” terang dia.

Kabar penggusuran itu pertama kali mengemuka dari salah satu grup facebook, Suku Makassar Internasional II. Demikian juga akun Instagram @sissika.nusantara.

Bidang Pariwisata Dikporapar Kabupaten Mempawah sudah berkoordinasi dengan Polres Mempawah. Apalagi kabar yang beredar, Pulau Takontu telah dimiliki oleh salah satu pihak untuk membangun tempat kegiatan keagamaan di sana.

Dari catatan sejarah, I Fatimah mewarisi jiwa patriotik ayahnya. Bahkan, ia memimpin pasukan wanita atau disebut dengan Pasukan Bainea melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) milik Belanda.

Pasca perjanjian Bongaya, sejumlah bangsawan Gowa menolaknya. Di antaranya anak Sultan Hasanuddin, I Manninrori Karaeng Galesong, bersama Karaeng Bontomarannu, dan Karaeng Karunrung. Termasuk I Fatimah bersama Pasukan Bainea juga menolak perjanjian tersebut.

Setelah beberapakali I Fatimah meminta untuk turun berjuang melawan kolonialisme Belanda, ibunya pun akhirnya memberikan restu.

Ia pun dibekali dengan keris. Sumber lain menyebutkan , I Fatimah Daeng Takontu disebut memakai senjata bernama balira untuk melawan penjajah.

Seperti yang ditulis dalam buku “Profil Sejarah, Budaya, dan Pariwisata Gowa”, I Fatimah meninggalkan tanah kelahirannya beberapa bulan setelah Sultan Hasanuddin wafat. I Fatimah diikuti oleh para ratusan pasukan elite menuju Banten.

“Di antara pasukan yang dipimpin I Fatimah, terdapat banyak wanita yang dikenal sebagai Pasukan Bainea (pasukan wanita), yaitu semacam srikandi membantu perjuangan raja Gowa,” seperti yang ditulis dalam buku “Profil Sejarah, Budaya, dan Pariwisata Gowa”. Buku tersebut ditulis oleh Akademisi Unhas, Adi Suryadi Culla, Zainuddin Tika, dan Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Jika Sultan Hasanuddin dijuluki oleh Belanda “Ayam Jantan dari Timur”, maka I Fatimah digelari oleh seorang penyair Belanda dengan nama “Garuda Betina dari Timur”.

Sementara itu, Sistem Informasi Database Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mempawah, menjelaskan, Daeng Fatimah adalah Istri Daeng Talibe yang makamnya terdapat di Desa Sui Bakau Kecil.

Suami Istri ini merupakan Panglima Perang Kerajaan Mempawah, di mana khusus kepada Daeng Fatimah ditugaskan menjaga wilayah perairan Kerajaan Mempawah yang dipusatkan di daerah Pulau Temajo dan tugas ini dijalankannya dengan baik dan penuh tanggung jawab. (ishak/fajar)

Bagikan berita ini:
9
9
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar