Tanpa Persetujuan, Penggusuran Makam Putri Raja Gowa di Kalbar Tak Boleh Dilakukan

Jumat, 28 Mei 2021 17:03

IST

FAJAR.CO.ID, GOWA — Kabar akan digusurnya makam I Fatimah dan juga suaminya, Daeng Talibe di Pulau Takontu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat mendapat perhatian dari legislator di DPD RI.

Pimpinan Komite 2 DPD RI, Hasan Basri mengatakan, pembongkaran makam putri dari Raja Gowa ke 16, Sultan Hasanuddin itu tak bisa dilakukan semena-mena.

“Solusinya tak boleh sampai ada persetujuan ahli waris (keluarga kerajaan Gowa). Kalau misalnya ada rencana dipindahkan, ahli waris yang ada di sana (Kabupaten Mempawah dan di sini (Kabupaten Gowa) dapat persetujuan,” tegas Hasan.

Menurutnya, makam tersebut tetap akan dipertahankan. Apalagi makam tersebut adalah milik orang yang pernah melawan penjajah Belanda. Ke depan, pihaknya akan berkoordinasi dengan senator yang ada di sana.

“Kita berusaha komunikasikan ke pemerintah setempat untuk sampai tidak diperlakukan seperti itu,” tambah Hasan, saat berkunjung ke Istana Balla Lompoa, Kabupaten Gowa.

“Jadi solusinya harus duduk bersama antara pemerintah setempat, ahli waris, dan kementrian ATR. Tidka boleh membongkar makam yang sudah ada,” tegasnya kepada wartawan.

Bagikan berita ini:
8
2
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar