Kandungan Magnet dalam Vaksin? Begini Penjelasan Prof Sri Rezeki Hadinegoro

Sabtu, 29 Mei 2021 13:46

ILUSTRASI: Petugas medis menyuntikan vaksin Covid-19. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Vaksinasi Covid-19 di Indonesia berjalan hampir tiga bulan. Hingga kemarin (28/5), jumlah mereka yang divaksin pertama mencapai 16.000.947 orang. Sedangkan yang sudah divaksin tahap kedua mencapai 10.486.399 orang.

Di tengah gencarnya vaksinasi, muncul hoaks terkait dengan adanya kandungan mikrocip magnetis. Informasi yang beredar, pasca divaksin kedua, logam akan menempel ke tubuh karena kandungan magnet. Hal itu tentu dibantah pihak terkait.

Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Sri Rezeki Hadinegoro menyatakan, persoalan tersebut perlu dikaji. Menurut dia, lubang jarum suntik sangat kecil sehingga tidak ada partikel magnetis yang bisa melewati. ”Vaksin berisi protein, garam, lipid, pelarut, dan tidak mengandung logam,” ujarnya.

Bantahan juga diutarakan Jubir Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi. Dia mengatakan, vaksin mengandung bahan aktif dan nonaktif. Bahan aktif berisi antigen, sedangkan bahan nonaktif berisi zat untuk menjaga kualitas vaksin agar masih baik saat disuntikkan.

Jumlah cairan yang disuntikkan hanya 0,5 cc dan akan menyebar di seluruh jaringan sekitar. Tidak ada cairan yang tersisa di bekas suntikan. ”Sebuah logam dapat menempel di permukaan kulit yang lembap biasanya disebabkan keringat,” ucapnya.

Sementara itu, pemerintah terus berupaya mengantisipasi virus Covid-19, khususnya varian baru, agar tidak meluas persebarannya. Sebab, varian baru diketahui lebih ganas dan memiliki laju penularan lebih cepat.

Bagikan berita ini:
5
8
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar