Anak Jalanan dalam Lingkaran Eksploitasi Kemanusiaan

Jumat, 4 Juni 2021 13:34

Pengemis menggendong seorang anak meminta minta kepada pengguna jalan di perempatan Jalan Bawakaraeng - Jalan RA Kartini...

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Beberapa hari belakangan ini, kehadiran anak jalanan (anjal), serta gelandangan dan pengemis (gepeng) sangat masif di ibu kota. Modusnya sangat seragam.

Ada yang membawa balita di atas becak yang didorong bolak-balik di jalan tertentu. Ada pula yang membawa proposal “pesantren” atau “pembangunan masjid” fiktif berkelililing door to door.

Di kawasan mal juga demikian. Banyak anjal dan gepeng terlihat. Juga terutama di area lampu lalu lintas dan persimpangan jalan raya.

Sosiolog Unhas M Ramli AT mengatakan menjamurnya pengemis dikarenakan penanganan yang kurang maksimal. Kebanyakan pengemis berasal dari luar Makassar.

Mereka berasal dari daerah lain di Sulsel, sehingga seharusnya pembinaan dan pendataan bukan hanya dilakukan di lokasi mengemis, tetapi juga hingga ke daerah asal. Pembinaan juga salah sasaran karena tetap berulang.

“Pendataan harus dilakukan terstruktur, dalam hal ini antarkabupaten/kota. Karena yang jadi pengemis bukan semuanya warga sekitar, banyak pendatang,” kata Ramli.

Ramli menuturkan mengatasi masalah pengemis bisa dilakukan pendekatan hukum. Banyak pengemis yang menjadikan minta-minta sebagai pekerjaan utama meski bukan dari kalangan miskin. Mereka memanfaatkan rasa iba warga untuk mendapatkan pundi-pundi uang.

“Ada musimnya dan biasa ada yang kontrol. Mereka memanfaatkan cacat fisik atau kelainan lainnya untuk menggugah simpati warga,” ucapnya.

Bagikan berita ini:
2
10
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar