Asfinawati Sebut Polemik 75 Pegawai KPK Menunjukkan Berlanjutnya Peristiwa Cicak vs Buaya

Minggu, 6 Juni 2021 18:02

Ketua Umum YLBHI, Asfinawati. (int)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati memandang polemik penyingkiran 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) menunjukan berlanjutnya peristiwa “Cicak vs Buaya”.

Bedanya, serangan kali ini ada pencanggihan metode baru untuk melemahkan KPK dengan cara menguasai lembaga antirasuah.

“TWK sudah berhasil menunjukkan ‘Cicak vs Buaya’ berlanjut, kalau dari jilid satu hingga jilid tiga serangan buaya dari luar berupa kriminalisasi maka di jilid keempat ini serangan buaya dari dalam (internal KPK),” ujar Asfinawati dalam acara nobar dan diskusi KPK the Endgame di Tangerang, Sabtu (5/6) malam.

Diketahui, dalam jilid sebelumnya serangan terhadap KPK selalu melibatkan petinggi Polri yakni jilid I (Susno Duajdi), jilid II (Djoko Susilo), dan jilid III (Budi Gunawan).

Kini, Cicak vs Buaya Jilid IV terjadi dalam jangka waktu panjang. Mulai dari Pansus Angket DPR terhadap KPK pada 2017, seleksi pimpinan KPK periode 2019-2023, revisi UU KPK, hingga TWK.

Asfinawati menuturkan, pertanyaan-pertanyaan janggal dan berkesan main-main selama proses TWK juga semakin menunjukan Indonesia sudah dikuasai oleh para koruptor.

Bahkan, sejak proses seleksi pimpinan KPK periode 2019-2023 yang meloloskan calon bermasalah. Sehingga kini Asfinawati melihat KPK praktis sudah dikuasai dari dalam.

“Kita ketahui bagaimana Komisi III DPR bulat memilih Firli Bahuri menjadi Ketua KPK. Indonesia ini sudah dikuasai koruptor. Jadi ini bukan hanya endgame KPK. tapi ini endgame untuk rakyat, ” tegasnya.

Bagikan berita ini:
2
6
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar