Pentas Monolog Bung Karno: “Besok atau Tidak Sama Sekali”

Minggu, 6 Juni 2021 19:44

Maudi Kusnadi/Jawapos

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Peringatan ke-120 tahun kelahiran Presiden RI pertama Ir. Soekarno pada 6 Juni menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali pemikiran-pemikiran Sang Proklamator. Suarahgaloka bekerjasama dengan MainMonolog meluncurkan sebuah pentas seni teatrikal tentang Putra Sang Fajar yang bertajuk ‘Bung Karno Series: Besok Atau Tidak Sama Sekali’ yang dibintangi oleh Wawan Sofwan dan Maudy Koesnaedi.

Pertunjukan naskah monolog karya Wawan Sofwan ini akan dihadirkan secara virtual dalam lima episode yang ditayangkan di akun Youtube Suarahgaloka. Episode perdana dapat disaksikan pada Minggu 6 Juni 2021 besok pada pukul 12.00 WIB.

Selain menghadirkan sosok Bung Karno yang diperankan langsung oleh Wawan Sofwan, sejumlah insan pertunjukan ternama juga terlibat dalam pementasan ini seperti aktris Maudy Koesnaedi (sebagai Inggit Garnasih) dan Vicky Mono (pengisi soundtrack).

Vicky Mono yang juga salah satu founder Suarahgaloka menuturkan pementasan ‘Bung Karno Series: Besok Atau Tidak Sama Sekali’ sejalan dengan misi Suarahgaloka yang ia dirikan bersama Tjuknur Putro Guritno dan Abong Tjokro Bondowoso. Yakni menjadi wadah berkumpul bagi seniman dan budayawan Indonesia guna memajukan seni dan budaya warisan leluhur.

“Suarahgaloka merupakan wadah pemersatu bangsa melalui seni, budaya dan kreativitas demi melestarikan kesenian moderen, tradisional, maupun kontemporer yang tujuannya akan menjadi sebuah sajian berskala nasional,” tutur vokalis band Burgerkill tersebut.

Pementasan ‘Bung Karno Series: Besok Atau Tidak Sama Sekali’ diadopsi dari naskah monolog karya sutradara Wawan Sofwan. Ini bercerita tentang proses Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Alur kisah terangkum dari beberapa fragmen yang mengulik kisah percintaan Bung Karno di masa muda, pengasingan oleh Pemerintah Hindia Belanda guna meredam pemikiran progresif Bung Karno. Hingga momen detik-detik Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

“Naskah Besok Atau Tidak Sama Sekali ini sudah melewati proses yang sangat panjang dari sisi riset dan observasi. Tentu kami berharap pesan yang terkandung dalam pertunjukan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bangsa ini adalah sebuah bangsa yang besar dan memiliki sejarah yang panjang,” tutur Wawan.

Tak hanya sebagai penulis naskah, Wawan Sofwan juga ‘turun tangan’ berperan sebagai Bung Karno dalam pementasan kali ini. Syahdan, Wawan merupakan sosok peraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai aktor sekaligus sutradara yang paling sering mementaskan monolog tentang Bung Karno. Sejak 2002, tak kurang Wawan terlibat dalam 85 pementasan monolog pidato Bung Karno. Selain Wawan, aktris senior Maudy Koesnaedi juga ambil bagian memerankan Inggit Ganarsih.

Bagi Maudy Koesnaedi, memerankan Inggit Garnasih bagaikan mengulang kenangan saat ia memerankan sosok yang sama dalam film tentang Bung Karno delapan tahun lalu. Namun kali ini menjadi sebuah tantangan baru bagi Maudy lantaran panggung pertunjukan yang berbeda.

Masyarakat yang terus dijejali oleh akulturasi budaya yang cepat membuat tiap generasi lupa akan pentingnya nilai-nilai kebudayaan itu sendiri. Seperti yang sudah tercetus dalam Pancasila, semboyan dengan 5 nilai padat dan besar seharusnya sudah menjadi prinsip 

seluruh bangsa Indonesia.

Berangkat dengan pola-pola dan acuan diatas, Suarahgaloka mencoba membungkus semuanya kedalam sajian seni pertunjukan dan talkshow. Sampai saat ini, Suarahgaloka sudah memiliki 6 episode dengan tema besar seperti: Jaya Dwipa, Jas Merah, Loka Imlek Jaya dan berbagai konten sisipan lain diantaranya: Suara Bangsa (SUBA), Talkshow Berisi (TABE). Dengan memanfaatkan situasi pandemi, Suarahgaloka tetap berjalan dengan format tapping yang selanjutnya di eksekusi pada kanal digital Youtube.

Selain berkenaan dengan konten-konten yang sudah digagas oleh Suarahgaloka, Suarahgaloka pun memiliki konten pendekatan terhadap sejarah Indonesia dari masa ke masa, konten tersebut bertajuk ‘Lorong Waktu’. Niatnya tetap memberikan benih yang baik bagi generasi juga masa yang akan datang, menjadi sebuah wadah yang berkelanjutan, selalu melestarikan apa itu kebaikan dan nilai-nilai kebijaksaan yang sudah seharusnya masyarakat Indonesia sadar akan hal ini. (*)

Bagikan berita ini:
10
4
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar