Menteri Perdagangan: Indonesia Membutuhkan dan Membangun Teknologi Digital

Senin, 7 Juni 2021 21:28

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (kanan) berbincang dengan pedagang saat meninjau kebutuhan bahan pokok, di Pasar Kram...

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, Indonesia saat ini tengah mengalami transformasi di berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan hingga bisnis. Sehingga transformasi menjadi penting mengingat banyak industri di Indonesia yang terdisrupsi akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Menurutnya, pentingnya transformasi tersebut agar Indonesia mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) yang berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dalam proses transformasi itu, Indonesia membutuhkan dan membangun teknologi digital dan berbagai aspek terkait lainnya, termasuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya, melalui pengembangan infrastruktur digital agar setiap sekolah di seluruh wilayah Indonesia bisa mengakses internet,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (7/6).

Lutfi memaparkan, transformasi juga dapat dilakukan melalui pameran. Sebab, pameran memiliki penting dalam memperkuat dan membuka kerja sama bisnis berkelanjutan dan transfer teknologi. Melalui pameran, negara peserta dapat menunjukkan tanggung jawabnya terhadap sosial masyarakat dan lingkungannya.

“Pameran seperti World Expo berperan penting dalam memperkuat dan membuka kerja sama bisnis berkelanjutan dan transfer teknologi, serta merupakan wahana bagi negara atau ekonomi untuk memperlihatkan citra budaya peradaban dan kemajuan yang telah dicapai dan akan dikembangkan di masa depan,” tuturnya.

Lutfi melanjutkan, dirinya pun mengundang beberapa negara untuk mengikuti TEI 2021 di Indonesia. Pameran perdagangan terbesar di Indonesia itu juga akan menunjukkan keberpihakan Indonesia terhadap lingkungan dan transformasi Indonesia. TEI 2021 sendiri akan dijadwalkan berlangsung pada 20 hingga 24 Oktober 2021 mendatang.

Lutfi memaparkan, hal itu menjadi penting untuk berbagi perkembangan dan tantangan yang dihadapi Indonesia serta perspektifnya pada peningkatan kerja sama ASEAN-Eurasian Economic Union (Rusia, Armenia, Belarus, Kyrgyzstan, dan Kazakhstan).

Sebagai negara yang berkembang maju, Indonesia menghadapi tantangan baru dalam memasuki tatanan rantai pasok nilai global untuk menciptakan kemakmuran sebagai negara demokrasi yang terbuka. Pada 2018, Indonesia yang semula merupakan negara dengan pendapatan per kapita menengah ke bawah telah naik kelas menjadi negara dengan pendapatan per kapita menengah ke atas.

Menurutnya, saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan baru. Sebelum bonus demografi, penambahan penduduk muda usia produktif atau kerja di Indonesia akan habis pada 2038 mendatang, Indonesia harus bisa meningkatkan pendapatan per kapita sebesar tiga kali lipat atau menjadi sekitar USD 12.500.

“Ketika bonus demografi tersebut habis dan Indonesia tidak bisa mengembangkannya, maka Indonesia akan terperangkap dalam jebakan kelas menengah (middle income trap). Oleh karena itu, dengan potensi penduduk muda ini, Indonesia memerlukan pelaku ekonomi yang tangguh untuk menjadi negara maju pada 2045,” kata Mendag Lutfi.

Untuk mencapainya, kata Lutfi, Indonesia melakukan dua langkah besar, yaitu meningkatkan investasi di bidang infrasruktur dan mendorong transfer teknologi. Negara-negara anggota ASEAN yang lain pun melakukan langkah serupa. Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau, namun belum sepenuhnya mengembangkan teknologi. Oleh karena itu, transfer teknologi sangat penting bagi Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Ini merupakan komitmen Indonesia untuk saling mengembangkan perdagangan investasi dengan negara- negara EAEU. Kami juga berkomitmen mengembangkan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan satu sama lain,” pungkasnya. (jpg/fajar)

Bagikan berita ini:
2
6
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar