Minim Perhatian Pemerintah, Petani Sawit Kesulitan Bersaing

Selasa, 8 Juni 2021 10:35

ilustrasi petani sawit

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Bisnis kelapa sawit dinilai timpang dan tak memberikan kesejahteraan. Nilai tukar buruh tani yang rendah jadi salah satu pemicunya.

Wakil Ketua KPPU, Guntur Syahputra Saragih menyebut kondisi itu terlihat dari petani kebun kelapa sawit yang tak kunjung sejahtera.

“Data-data menunjukkan gurihnya kelapa sawit tidak juga sampai ke petani rakyatnya, bagaimana dengan kesejahteraan petani rakyatnya,” imbuh Guntur, belum lama ini.

Mengutip data Kementerian Pertanian, terjadi peningkatan tenaga kerja industri sawit pada 2011-2015. Pada 2011 misalnya, buruh kelapa sawit dinyatakan sebesar 3,65 juta dan mengalami peningkatan pada 2012 menjadi 3,7 juta.

Pada 2013, angka mengalami pertumbuhan pesat menjadi 5,18 juta dan naik lagi pada 2014 menjadi 5,21 juta. Lalu, pada 2015 buruh kebun sawit dinyatakan sebanyak 5,5 juta orang.

“Dari sisi penyerapan tenaga kerja memang terjadi peningkatan, misal 2011-2015. Namun terjadi shift (pergeseran) sebenarnya dari pemilik kebun menjadi buruh,” imbuhnya.

Berbeda dengan KPPU, Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) menilai terjadi peningkatan terhadap nilai tukar petani sawit.

Menurut Sekjen DPP Gapperindo, Sulaiman H. Andi Loeloe, sejauh ini luas lahan kelapa sawit semakin bertambah. Hal ini kemudian menambah pula jumlah buruh tani di Indonesia.

Kendati luasnya lahan kelapa sawit masih didominasi oleh korporasi besar. Luas perkebunan milik petani rakyat luasnya sekitar 41 persen.

Bagikan berita ini:
1
5
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar