Lian Gouw

Kamis, 10 Juni 2021 08:00

Disway

Oleh: Dahlan Iskan

SAYA berhenti di rest area dekat Batang, Jateng. Isi bensin. Di sepanjang jalan tol dari Jakarta itu, saya kepikiran isi novel yang hampir selesai saya baca: Mengadang Pusaran.

Maka, sambil istirahat, saya selesaikan novel itu. Biar segera tahu ending-nya. Perjalanan ke Surabaya masih lima jam lagi. Tidak sabar.

Itulah novel 440 halaman yang ditulis orang yang sangat benci Indonesia —lalu jatuh cinta pada bahasa Indonesia.

Nama penulis novel itu: Lian Gouw. Kelahiran Bandung. Kini usianyi 84 tahun. Lian Gouw tinggal di Palo Alto, dekat San Francisco.

Kepergian Lian ke Amerika Serikat pun akibat kebencian itu. Di awal tahun 1960. Yakni, ketika pemerintahan Soekarno melarang bahasa Belanda. Juga, apa pun yang berbau Belanda.

Sejak kepergiannyi itu, Lian tidak mau lagi ingat Indonesia. Pun selama 50 tahun itu, selama di Amerika itu, dia tidak mau tersambung dengan apa pun yang berbau Indonesia.

Bahasa Indonesia —yang hanya sebentar dia pelajari di SMA Belanda di Bandung— hilang sama sekali dari ingatannyi.

Lian dibesarkan di keluarga Tionghoa golongan hollands spreken. Yang tidak mau lagi menyerap dan mempraktikkan budaya Tionghoa. Adat istiadat di rumahnyi memakai adat Belanda. Termasuk cara makan dan jenis makanannya. Mereka tidak mengenal sumpit. Sekolah pun harus di sekolah Belanda.

Bagikan berita ini:
7
5
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar