Pelaku Pemerkosaan, IDI Lebih Setuju Hukum Mati

Jumat, 11 Juni 2021 13:59

Ilustrasi

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR –Pelaku pemerkosaan dan perampokan dianggap sadis dan bejat. Apalagi, berulang-ulang melakukannya.

Hanya saja, soal sanksi dan hukumannya, terjadi pro dan kontra terkait kebiri dan kebiri kimia. Aktivis gerakan perempuan dan sebagian pakar hukum mendorong kebiri sebagai hukuman.

Pemberian sanksi hukuman mati juga ditegaskan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai pilihan alternatif yang diberikan kepada pelaku perampokan dan pemerkosaan. Hukuman mati lebih relevan dibandingkan kebiri.

Anggota IDI Makassar dr Harry Nusaly SpU menyebut pemberian sanksi hukuman kebiri kimia merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan melanggar norma agama yang dianutnya.

“Sebagi urolog, saya tidak sepakat pemberian hukuman kebiri ataupun kebiri kimia, karena itu bertentangan dengan kode etik atau sumpah dokter,” urai Harry, kemarin.

Menurutnya, sejauh ini belum ada undang-undang yang mengatur hukuman kebiri. Baru ada pada tataran peraturan pemerintah yang cakupan hukumnya masih di bawah dibandingkan dengan undang-undang.

“Harus dibuatkan undang-undangnya terlebih dahulu. Kalau belum ada, saat ini hukuman mati yang paling relevan diberikan,” pungkas Harry.

Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MKHI) Sulawesi Selatan Muji Iswanty menyebut hukuman mati yang paling relevan untuk diberikan kepada pelaku perampokan dan pemerkosaan.

“Pelaksanaan hukuman kebiri kimia bertentangan dengan UU Pasal 28G ayat 2 mengenai setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia,” urainya.

Bagikan berita ini:
5
2
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar