Sulsel di Pusaran Korupsi, SMS Misterius Atasnamakan NA, Begini Kesaksian Raymond

  • Bagikan
Para saksi kasus suap pengadaan barang dan jasa, perizinan, dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemprov Sulsel menjalani sidang di Pengadilan Negeri Makassar, Kamis, 10 Juni. Saksi yang hadir yakni, Petrus Yalim, Raymond Ferdinand Halim, Siti Abidah Rahman , Andi Gunawan , dan saksi via zoom Nurdin Abdullah. ABE BANDOE/FAJAR

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Kasus dugaan gratifikasi proyek infrastruktur yang melibatkan Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA) makin liar. Salah satunya, terungkap adanya SMS (Short Message Service) misterius meminta fasilitas gratis menginap di Bulukumba.

Dalam SMS tersebut membawa nama Nurdin Abdullah dan mengaku diminta NA agar menyiapkan fasilitas penginapan. SMS ini dikirim seorang oknum pejabat kepada Direktur PT Agung Perdana Bulukumba, Raymond Ferdinan Halim.

Fakta ini diungkap langsung Raymond saat dihadirkan sebagai saksi atas dugaan gratifikasi NA di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Makassar, Kamis, 10 Juni. Raymond mengaku langsung menghubungi atasannya Agung Sucipto alias Anggu untuk meminta petunjuk adanya permintaan ini.

Setelah berkomunikasi dengan Anggu, Raymond pun diberi persetujuan agar menyiapkan fasilitas menginap di Hakuna Matata Resort yang berada di kawasan wisata Pantai Tanjung Bira Bulukumba. Anggu memerintahkan Raymond agar fasilitas menginap diberikan secara gratis.

Sayangnya, Raymond mengaku lupa siapa nama pejabat yang menghubunginya tersebut. Dia juga tak menunjukkan bukti SMS yang diterima saat itu dalam persidangan. Raymond mengaku handphone yang dia gunakan saat itu sudah hilang, sehingga tidak bisa lagi menunjukkan bukti SMS tersebut.

"Saya lupa siapa yang kontak saya. Katanya, Pak Gubernur akan berkunjung ke Bulukumba dan mau dipesankan kamar. Saya sampaikan ke Pak Anggu dan Pak Anggu bilang kasih gratis mi," ungkap Reymond saat memberikan keterangan saksi, kemarin.

Pengamat Hukum UNM, Prof Heri Tahir mengatakan, kesaksian ini harus didalami betul. Menurutnya, ini adalah salah satu fakta persidangan yang ikut mengurai bagaimana pola transaksi yang dijalankan jaringan Anggu selama ini. Khususnya dalam kaitannya dengan sepak terjang bersangkutan memainkan proyek di Sulsel.

Hanya saja, Heri menyebut, SMS permintaan fasilitas itu, harus dibuktikan secara materil. Tidak bisa hanya kesaksian dalam bentuk lisan. Selain itu, harus dibuka bukti penggunaan kamarnya. Siapa yang menggunakan dan kapan penggunaannya. "Bahkan diskon tiket saja harus dibuktikan, termasuk fasilitas lain yang dinikmati," sebutnya.

Di sisi lain Prof Heri juga menegaskan agar semua pihak dapat menjunjung tinggi proses hukum yang masih sementara berjalan dan tidak secara cepat langsung menyimpulkan. "Kita harus menghargai sidang dan keterangan di dalam sidang," tegasnya.

Sementara itu, Pengamat Hukum Unhas, Muh. Hasrul menyampaikan fakta yang diungkapkan saksi ini harus menjadi tambahan informasi yang perlu dikejar terus. Baik oleh majelis hakim maupun pihak KPK jika kasus ini akan dikembangkan. (abd/arm)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan