Edukasi Nelayan Demi Keberlanjutan Hidup Biota Laut

Sabtu, 12 Juni 2021 21:37

Pengawas DKP Mamminasata meberikan edukasi Illegal Fishing kepada nelayan Pulau Satangnga.

FAJAR.CO.ID, TAKALAR — Sekitar 20-30% nelayan di Pulau Satangnga, Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, masih menggunakan cara destruktif dalam menangkap ikan. Hal ini jelas berdampak pada ekosistem biota laut.

Sebagai upaya untuk mengubah perilaku para nelayan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Selatan Cabang Mamminasata memberi edukasi tentang bahaya menangkap ikan dengan cara ilegal.

Kepala Seksi Pengawasan DKP Cabang Mamminasata, Sayyid Zainal Abidin menjelaskan pengawasan terhadap kegiatan illegal fishing akan terus ditingkatkan, tidak boleh lagi ada nelayan yang melanggar.

Sebagaimana UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, dimana salah satu pasalnya menyebutkan, bahwa setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, menggunakan alat penangkapan atau alat bantu yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan.

“Kita beri pemahaman dan penyadaran agar nelayan menggunakan cara yang benar dalam menangkap ikan, karena akan ditindak tegas bahkan dengan hukuman penjara,” jelasnya Sayyid kepada nelayan Pulau Satangnga, Sabtu, 12 Juni 2021.

Ia menegaskan kepada para nelayan bahwa terdapat ancaman hukuman penjara jika melanggar UU Perikanan tersebut. Dalam Pasal 93 memerintahkan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp20 miliar bagi pelaku Illegal Unreported Unregulated Fishing (IUUF).

Pada kesempatan yang sama, Kepala DKP Cabang Mamminasata, Suhartono menerangkan pentingnya menjaga kehidupan biota laut. Bagaimapun ikan menjadi sumber penghasilan nelayan, dan jika cara-cara ilegal terus dilakukan, bukan tidak mungkin populasi ikan akan semakin berkurang.

Bagikan berita ini:
4
3
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar