Kasus Suap Proyek Infrastruktur di Sulsel, Edy Rahmat Minta Jatah

Sabtu, 12 Juni 2021 13:16

Nurdin Abdullah Buka-bukaan di Sidang

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Eks Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sulsel, Edy Rahmat memperlakukan rekanan ibaratnya mesin ATM. Beberapa kali saat akan bepergian, dia sengaja mendatangi para kontraktor untuk minta uang operasional.

Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA) yang juga tersangka dalam kasus suap proyek infrastruktur di Sulsel mengakui, Edy Rahmat adalah sosok yang dikenal suka minta jatah dari para kontraktor. Hal ini yang diklaim NA jadi penyebab, dia pernah dinonjobkan.

“Edy Rahmat pernah saya nonjobkan setahun karena memang saya sudah mendengar yang bersangkutan itu merisaukan, sering jual nama gubernur di ULP (Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa, red),” kata Nurdin Abdullah saat memberikan keterangan di persidangan Agung Sucipto alias Anggu, Kamis, 10 Juni.

Pernyataan NA ini sejalan dengan apa yang disampaikan Direktur PT Putra Jaya, Petrus Yalim. Menurutnya, Edy Rahmat sudah dua kali meminta uang dari dia di tahun 2020 sebelum ditangkap Februari tahun ini.

Petrus mengaku saat itu, Edy Rahmat datang langsung di kantornya dan meminta uang dengan alasan akan keluar kota sehingga minta jatah untuk kebutuhan operasionalnya. Setiap kali meminta Edy Rahmat tak menyebut angka. Dia hanya menyebut, butuh dibantu. Dia kemudian memberikan masing-masing Rp10 juta dan Rp5 juta.

“Beliau butuh uang operasional. Pak Edy ke kantor sendiri. Dia cuma katakan saya mau keluar kota, mungkin ada yang bisa dibantu. Maka, kami bantu,” ujarnya. ungkap Petrus saat Sidang Kamis, 10 Juni di Pengadilan Negeri Makassar.

Bagikan berita ini:
8
3
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar