Pajak Pendidikan Picu Kesenjangan, Biaya Sekolah Makin Mahal

Sabtu, 12 Juni 2021 12:17
Pajak Pendidikan Picu Kesenjangan, Biaya Sekolah Makin Mahal

Dua anak sekolah dari SD Bonto-Bonto, Dusun Cindakko, Desa Bontoramba, Kecamatan Tombo Bulu, Kabupaten Maros berjalan di jalan berbatu saat pulang ke rumah usai melakukan proses belajar. Akses ke sekolah harus berjalan kaki tanpa ada kendaraan. Mereka menempuh jarak sekitar lima kilometer. Daerah ini tidak terjangkau oleh listrik dan jaringan telepon, hingga internet sama sekali tidak tersentuh. (FOTO: nurhadi sasu/fajar)

Lalu grade menengah, atau sekolah yang siswanya 100-500 orang, sekitar 25 persen. Selebihnya adalah sekolah dengan grade bawah atau siswanya di bawah 100 orang.

“Terus terang bila diterapkan betul-betul pajak untuk swasta akan setengah mati. Suatu saat swasta yang tidak mampu bakal tutup,” kata Hendrik, Jumat, 11 Juni.

Hendrik menambahkan, sejauh ini belum diketahui PPN yang dimaksud. Apakah besarannya dihitung dengan jumlah siswanya atau ada perhitungan lainnya. “Besar sekali itu 12 persen. Sisa menunggu waktu sekolah tutup kalau itu betul diterapkan,” cetusnya.

Untuk itu, Hendrik meminta sebaiknya rencana ini ditunda dahulu. Kondisinya sangat tidak ideal di tengah pandemi yang memukul keras perekonomian.

“Kita tahu kondisi keuangan negara sedang sulit. Tetapi itu tetap bukan solusi lah. Khususnya pendidikan SMK. Apalagi soal pendidikan inikan tanggung jawab pemerintah,” pungkasnya.

Berdampak ke Orang Tua

Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril mengatakan, jika akhirnya pemerintah dan DPR RI meloloskan PPN pendidikan, maka sekolah atau yayasan tidak bisa menanggung sendiri. “Harus dibebankan ke orang tua,” ujarnya kepada FAJAR, Jumat, 11 Juni.

Bagikan berita ini:
5
1
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar