Giring PSI Janjikan Kuliah Gratis, Ferry Koto: Gimmick Orang Muda yang Kehabisan Ide

Rabu, 16 Juni 2021 14:38

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Presidium forum pendidikan Jawa Timur, Ferry Koto menanggapi pelaksana tugas (Plt) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha yang berjanji menggratiskan kuliah di tanah air. Ferry Koto menilai, Giring dan PSI hanya gimmick dan kehabisan ide.

“PSI kenapa bermain gimmick begini, seperti orang muda yang kehabisan ide dan kreatifitas,” kata Ferry lewat keterangannya, Rabu (16/6).

Ferry mengatakan, program wajib belajar 12 tahun saja belum berjalan sesuai harapan. Kini PSI main jual kuliah gratis.

“Banyak persoalan pendidikan yg bisa diperhatikan, daripada yg akhirnya janji kosong begini,” katanya.

Dia berujar, jika Giring serius, tidak perlu menunggu jadi presiden untuk membantu pendidikan nasional. Seba saat ini juga banyak yang pendidikannya tertinggal akibat pandemi

“Tak perlu tunggu jadi Presiden jika ingin membantu melesatkan pendidikan negeri. Dari sekarang saja banyak yang bisa dikerjakan agar pendidikan anak-anak negeri tak tertinggal akibat pendemi,” ucapnya.

“Jika bekerja dari sekarang, dan rakyat terbantu, nanti bonusnya bisa saja jadi pemimpin negeri,” tutur dia.

Dia mengatakan, seharusnya PSI memakai gaya politik baru yang lebih modern. Sebab menjual janji untuk kepentingan politik adalah gaya politik kuno.

“Mestinya PSI sebagai partai orang muda, jangan bergaya tua dalam berpolitik. Gimmick janji-janji akan melakukan sesuatu jika dipilih, adalah gaya politik kuno,” katanya

“Politik anak muda itu mestinya berbuat sesuatu sekarang, mumpung usia masih panjang agar dipercaya memimpin di masa depan,” pungkasnya.

Lebih jauh dia menilai Giring tidak paham tentang pendidikan di Indonesia.

“Saya yakin, Giring tidak punya data apapun yang mendukung dia bisa wujudkan janji itu. Hanya Gimmick. Bahkan, maaf, saya ndak yakin Giring paham persoalan pendidikan dasar dan menengah, jangankan PT,” pungkasnya. (fin/fajar).

Bagikan berita ini:
4
1
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar