Tiga Daerah Ini Catat Kasus HIV Tertinggi di Sulsel

Rabu, 16 Juni 2021 15:01

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Muhammad Ichsan Mustari

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Tiga daerah yang memiliki kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) tertinggi di Sulawesi Selatan di duduki oleh Kota Makassar, Kota Palopo dan Kabupaten Bone.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sulsel, kasus HIV di kota Makassar mencapai 675 kasus dan orang dengan (Human Immunodeficiency Virus (ODHA) mulai terapi antiretroviral (ART) mencapai 607 orang.

Sedangkan, Palopo menduduki kasus tertinggi kedua sebanyak 87 kasus HIV dan 107 ODHA mulai ART. Tertinggi ketiga diduduki oleh Bone, yakni 59 kasus HIV dan 70 ODHA mulai ART.

Adapun kabupaten/kota lainnya yakni, Jeneponto (59 kasus HIV dan 5 ODHA ART), Wajo (37 kasus HIV dan 13 ODHA mulai ART), Kota Pare-pare (36 kasus HIV dan 31 ODHA mulai ART), Luwu Timur (35 kasus HIV dan 41 ODHA mulai ART), Bulukumba (34 kasus HIV dan 43 ODHA mulai ART).

Selanjutnya Luwu (32 kasus HIV dan 7 ODHA mulai ART), Toraja Utara (32 kasus HIV dan 31 ODHA mulai ART), Tana Toraja (24 kasus HIV dan 19 ODHA mulai ART), Takalar (23 kasus HIV dan 0 ODHA mulai ART), Selayar (20 kasus HIV dan 14 ODHA mulai ART) dan Sinjai (20 kasus HIV dan 25 ODHA mulai ART).

Kemudian, Pinrang (17 kasus HIV dan 15 ODHA mulai ART), Sidrap (16 kasus HIV dan 15 ODHA mulai ART), Pangkep (16 kasus HIV dan 19 ODHA mulai ART), Gowa (14 kasus HIV dan 18 ODHA mulai ART), Bantaeng (13 kasus HIV dan 0 ODHA mulai ART), Soppeng (10 kasus HIV dan 6 ODHA mulai ART), Maros (9 kasus HIV dan 5 ODHA mulai ART, Luwu Utara (3 kasus HIV dan 0 ODHA mulai ART), Enrekang (2 kasus HIV dan 0 ODHA mulai ART) dan Barru (0 kasus HIV dan 0 kasus ODHA mulai ART).

Adapun pencapaian testing pada sasaran SPM (bumil, pasien IMS, TBC, WBP dan 4 populasi kunci) tertinggi di Kota Palopo sebesar 46,8 persen. Rata-rata pencapaian 35 – 20 persen.

Adapun perkembangan kasus HIV AIDS selama lima tahun terakhir (2016 – 2020) kasus tertinggi ternyata masih berada di tahun 2019. Jika dibandingkan tahun 2019, kasus di tahun 2020 mengalami penurunan.

Dimana tahun 2016 (1030 kasus HIV dan 578 AIDS), 2017 (1560 HIV dan 599 AIDS), 2018 (1174 HIV dan 575 AIDS), 2019 (1679 HIV dan 483 AIDS) dan 2020 (1210 HIV dan 307 AIDS).

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Muhammad Ichsan Mustari mengatakan, sama halnya dengan COVID-19, dalam menangani HIV/AIDS perlu ada pemutusan mata rantai orang yang positif dan negatif.

Satu hal yang menjadi poin penting kata dia adalah memperbanyak testing di masing-masing daerah.

“Persoalannya adalah banyak orang yang AIDS tapi tidak diketahui. Ada juga yang tidak tahu dirinya (terjangkit), jadi diperlukan testing, sama dengan COVID-19. Perbanyak tracing dan testing,” ujarnya,” ketika ditemui di Kantor Gubernur, Rabu, (16/6/2021).

Lebih lanjut kata Ichsan, setelah upaya itu dilakukan, langkah selanjutnya perlu dilakukan penguatan edukasi yang sifatnya sebaya atau sesamanya.

Menurutnya, pola perilaku dan pertambahan penduduk merupakan beberapa hal yang dapat menjadi penyebab dari kasus yang ada selama ini.

“Saya kira bertambahnya penduduk dan perilaku yang perlu ada penguatan. Karena testing kita masih kurang. Jadi memang program kita adalah penguatan testing dan treatment. Ini yang mau kita tingkatkan,” imbuhnya. (selfi/fajar)

Bagikan berita ini:
4
5
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar